Catatan Kolaborasi Get Plastic dan The Kayon Jungle Resort
Industri pariwisata sering ditempatkan dalam dua narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia dipuji sebagai penggerak ekonomi dan wajah keindahan alam. Di sisi lain, ia kerap dikritik sebagai salah satu penyumbang masalah lingkungan, termasuk sampah. Di tengah dua narasi ini, jarang dibicarakan satu hal penting: bahwa pelaku industri pariwisata juga memiliki pilihan untuk mengambil peran dalam penyelesaian masalah. Pilihan inilah yang mulai diambil oleh The Kayon Jungle Resort.
Sebagai resort yang beroperasi di tengah lanskap alam Payangan, Gianyar, The Kayon Jungle Resort berhadapan dengan realitas operasional yang tidak sederhana. Aktivitas tamu, dapur, housekeeping, spa, hingga area publik secara alami menghasilkan sampah setiap hari. Seperti banyak resort lain, pengelolaan sampah selama ini berjalan sebagai rutinitas teknis: dikumpulkan, diangkut, lalu diserahkan kepada pihak eksternal.
Namun, asesmen awal yang dilakukan bersama Get Plastic menunjukkan bahwa sistem tersebut menyimpan pertanyaan mendasar: ke mana sebenarnya sampah itu pergi, dan sejauh mana dampaknya bisa dikendalikan? Di titik inilah, kolaborasi dimulai dari refleksi yang dilakukan The Kayon Jungle Resort.
Dari Rutinitas Operasional ke Kesadaran Sistem
Asesmen yang dilakukan Get Plastic tidak hanya membaca angka atau alur teknis, tetapi juga cara kerja sistem di dalam resort: bagaimana staf memahami pemilahan sampah, bagaimana kebijakan diterjemahkan dalam praktik, dan bagaimana tanggung jawab pengelolaan dibagi di antara departemen.
Hasilnya memperlihatkan situasi yang sebenarnya cukup umum di industri hospitality: kesadaran sudah ada, tetapi sistem belum sepenuhnya utuh. Pemilahan dilakukan, namun belum konsisten. Kebijakan ada, tetapi belum selalu dipahami secara seragam. Dan yang paling penting, pengelolaan sampah belum dipandang sebagai bagian dari strategi keberlanjutan yang menyeluruh. Alih-alih melihat temuan ini sebagai kelemahan, pihak resort justru membacanya sebagai ruang perbaikan.
Memilih untuk Terlibat
Bagi banyak pelaku industri, pengelolaan sampah seringkali dipahami sebagai kewajiban tambahan yang harus ditekan biayanya. Dalam logika bisnis, efisiensi menjadi kata kunci. Namun, The Kayon Jungle Resort memilih membaca persoalan ini dengan cara berbeda.
Pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sekadar sebagai beban operasional, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab ekologis yang melekat pada aktivitas pariwisata. Pilihan ini tidak datang dengan solusi instan. Ia justru dimulai dari proses yang pelan: membangun pemahaman internal, merancang ulang sistem, dan membuka ruang pendampingan.
Dalam kerangka ini, teknologi, termasuk pirolisis tidak diposisikan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai salah satu elemen dalam sistem yang lebih besar. Energi yang dihasilkan dari pengolahan sampah dipahami sebagai konsekuensi dari sistem yang tertata, bukan sebagai alasan utama untuk membangun teknologi.
Pendampingan sebagai Proses, Bukan Proyek
Kolaborasi dengan Get Plastic kemudian bergerak ke tahap pendampingan. Fokusnya bukan hanya pada instalasi teknologi, tetapi pada penguatan sistem: penyusunan standar operasional, pembentukan tim pengelola sampah internal, peningkatan kapasitas staf, serta perancangan alur pengelolaan yang lebih terintegrasi.
Pendampingan ini menempatkan resort bukan sebagai objek program, tetapi sebagai subjek perubahan. Dalam proses ini, pengelolaan sampah tidak lagi berdiri di pinggir operasional resort, melainkan mulai terhubung dengan cara resort melihat keberlanjutan, tanggung jawab, dan relasinya dengan lingkungan dan warga sekitar.
Resort sebagai Bagian dari Solusi
Cerita The Kayon Jungle Resort menunjukkan bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah tidak selalu dimulai dari teknologi canggih atau investasi besar. Ia bisa dimulai dari keputusan yang lebih mendasar: untuk tidak lagi menyerahkan seluruh persoalan sampah ke luar sistem, dan memilih terlibat secara aktif dalam penyelesaiannya.
Di tengah kompleksitas industri pariwisata, resort memiliki posisi strategis. Ia bukan hanya produsen sampah, tetapi juga simpul yang dapat menghubungkan sistem pengelolaan sampah dengan perubahan budaya kerja, kesadaran staf, dan relasi dengan masyarakat sekitar.
Ketika resort memilih untuk mengambil peran, pengelolaan sampah tidak lagi sekadar urusan teknis. Ia menjadi bagian dari cara industri pariwisata mendefinisikan ulang hubungannya dengan lingkungan. Dan di titik inilah, resort tidak lagi hanya menjadi bagian dari masalah, tetapi mulai mengambil tempat sebagai bagian dari solusi.
Catatan Kolaborasi Get Plastic dan The Kayon Jungle Resort Industri pariwisata sering ditempatkan dalam dua narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia dipuji sebagai penggerak ekonomi dan wajah keindahan alam. Di sisi lain, ia kerap dikritik sebagai salah satu penyumbang masalah lingkungan, termasuk sampah. Di tengah dua narasi ini, jarang dibicarakan satu hal penting: […]
Pada tahun 2005, longsor sampah terjadi di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Gunungan sampah runtuh dan menimbun dua kampung di sekitarnya. Lebih dari seratus orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Foto: Pikiran Rakyat Tragedi itu menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar dalam sejarah pengelolaan sampah di Indonesia. Dari peristiwa inilah kemudian tanggal 21 Februari diperingati […]
Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) lahir dari tragedi longsor TPA Leuwigajah pada 2005 sebuah peristiwa yang mengingatkan Indonesia bahwa sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi persoalan keselamatan dan tata kelola. Dua puluh tahun setelahnya, tantangan itu belum selesai. Timbulan sampah nasional masih berada di kisaran puluhan juta ton per tahun, dengan sampah plastik menjadi salah […]
Lagu “Kite Sampah Sebenernye” karya Ipank Horehore bukan sekadar lagu tentang sampah. Ia adalah cermin yang dipasang di hadapan manusia, memaksa kita melihat bahwa persoalan sampah tidak berhenti pada plastik, botol, atau limbah yang menumpuk, tetapi berakar pada cara hidup, pola pikir, dan kebiasaan kita sendiri. “Jangan dulu salahin sampahnye Cobe longok liet dulu diri […]