Kite Sampah Sebenernye: Kritik Sosial dalam Bahasa yang Sederhana
Raissa Kanaya
Lagu “Kite Sampah Sebenernye” karya Ipank Horehore bukan sekadar lagu tentang sampah. Ia adalah cermin yang dipasang di hadapan manusia, memaksa kita melihat bahwa persoalan sampah tidak berhenti pada plastik, botol, atau limbah yang menumpuk, tetapi berakar pada cara hidup, pola pikir, dan kebiasaan kita sendiri.
“Jangan dulu salahin sampahnye
Cobe longok liet dulu diri kite
Ape kite udeh bener bener kelola sampahnye
Ape jangan jangan kite yang sampahnye” –Kite Sampah Sebenernye, Ipank Horehore
Judul lagu ini sudah menjadi pernyataan yang provokatif. Kalimat “kite sampah sebenernye” tidak diarahkan untuk menyalahkan satu pihak tertentu, melainkan mengajak kita masuk ke dalam ruang refleksi. Kata “kite” (kita) menghapus jarak antara “aku,” “kamu,” dan “dia.” Dalam logika lagu ini, tidak ada “mereka”, yang ada adalah “kita” yang ikut membentuk masalah.
Secara musikal, lagu ini dibangun dengan gaya yang ringan, nyeleneh, bahkan terkesan santai. Namun justru di sanalah kekuatannya. Kritik sosial tidak disampaikan dengan nada menggurui atau marah, melainkan lewat humor dan sindiran halus. Pendekatan ini membuat pesan lagu terasa dekat, akrab, dan mudah diterima.
Makna paling kuat dari lagu ini terletak pada pergeseran fokus masalah. Selama ini, sampah sering dipahami sebagai persoalan teknis yaitu kurangnya tempat sampah, buruknya sistem pengelolaan, atau minimnya teknologi pengolahan. Lagu ini menawarkan sudut pandang lain, bahwa sampah adalah gejala dari gaya hidup yang konsumtif, budaya instan, dan kebiasaan melempar tanggung jawab. Dengan kata lain, sampah bukan hanya benda yang dibuang, tetapi juga nilai-nilai yang kita praktikkan sehari-hari.
Mengkritisi Sampah Sebagai Bagian Keseharian
Dalam konteks ini, lagu “Kite Sampah Sebenernye” menjadi relevan dengan wacana lingkungan yang lebih luas. Teknologi pengolahan sampah, termasuk inovasi yang mampu mengubah sampah menjadi energi, sering dipandang sebagai solusi utama. Padahal, teknologi bekerja di hilir, menyelesaikan akibat, bukan sebab. Lagu ini mengingatkan bahwa tanpa perubahan perilaku dan kesadaran, teknologi justru berisiko menjadi legitimasi untuk terus memproduksi sampah.
Pada akhirnya, lagu ini tidak menawarkan solusi teknis, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih mendasar, kesadaran. Ia mengajak pendengar untuk berhenti melihat sampah sebagai sesuatu yang ‘di luar diri,’ dan mulai mengakui bahwa masalah ini lahir dari pilihan-pilihan kecil yang kita anggap biasa. Dalam kesederhanaannya, lagu ini berhasil melakukan sesuatu yang jarang dilakukan karya populer: membuat kita tidak hanya mendengar, tetapi juga merasa tidak nyaman dan dari ketidaknyamanan itu kemungkinan perubahan muncul.
Namun, untuk memahami mengapa kritik ini disampaikan dengan cara yang begitu ringan, rasanya penting untuk melihat proses berpikir di baliknya. Karena lagu ini muncul dari pengalaman personal Ipank ketika mulai mengenal gerakan pengelolaan sampah yang lebih luas.
Dalam obrolan bersama Ipank, Ipank bercerita bahwa lagu ini lahir dari pertemuannya dengan gerakan Get Plastic. Ia mulai tertarik bukan hanya pada idenya, tetapi juga pada cara gerakan itu memandang sampah. Salah satu pemikiran yang paling menempel di kepalanya adalah kalimat sederhana: “Sampah kagak punya tangan, sampah kagak punya kaki, kagak mungkin itu sampah jalan sendiri.” Kalau sampah ada di mana-mana, maka pasti ada manusia yang membawanya ke sana.
Menariknya, Ipank juga menegaskan bahwa ia tidak sedang membuat metafora. Ia tidak ingin “sampah” di lagu ini dibaca sebagai simbol pejabat korup, atau kebusukan moral. Baginya, sampah yang dimaksud adalah sampah yang nyata; sampah plastik, sampah rumah tangga, sampah yang benar-benar kita buang setiap hari. “Sampah yang dimaksud bukan sampah yang ini, soalnye kalau pejabat-pejabat yang korup sih udeh lebih dari sampah makanya gue gak pake kiasan itu, kasian sampahnye disamain same pejabat-pejabat yang korup mah” Di balik kelucuan itu, ada pesan penting; persoalan sampah bukan hanya soal moral, tetapi soal kebiasaan.
Bergerilya di Balik Penyampaian ‘Hore-hore’
Pilihan gaya penyampaian yang lucu dan ‘hore-hore’ pun bukan sekadar ciri khas, melainkan strategi komunikasi. “Gue pengen itu disampaikan dengan penuh kegembiraan… biar mereka nangkep itu di posisi senang.” Jawab Ipank agak serius. Ia ingin orang menangkap kritiknya dalam keadaan hati yang lebih terbuka, saat sedang tertawa, bukan saat sedang defensif. Dalam isu lingkungan, pendekatan seperti ini menjadi penting karena perubahan perilaku jarang terjadi lewat kemarahan, tetapi sering kali dimulai dari kesadaran yang tumbuh perlahan.
Dari sisi gerakan, hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan sistem dan teknologi, tetapi juga membutuhkan bahasa yang dekat dengan masyarakat. Data, angka, dan kebijakan penting, tetapi tidak selalu cukup untuk mengubah kebiasaan.
Obrolan ini juga membuka diskusi yang lebih luas tentang cara kita memahami solusi. Ketika teknologi pengolahan sampah berkembang, termasuk inovasi yang mengubah sampah menjadi energi, muncul risiko bahwa masyarakat merasa masalah selesai. Padahal, sebagaimana disinggung dalam lagu ini, teknologi hanya bisa bekerja di hilir. Ia membantu mengolah sampah yang sudah terlanjur ada, tetapi tidak otomatis mengurangi kebiasaan menghasilkan sampah.
Ipank sendiri melihat bahwa teknologi bisa menjadi solusi, tetapi hanya jika benar-benar dirancang dengan baik dan tidak sekadar memindahkan polusi dari satu bentuk ke bentuk lain. Pernyataan ini kembali menguatkan pesan utama lagu: bahwa kita tidak bisa hanya bergantung pada “alat” untuk menyelesaikan masalah, sementara perilaku manusia tetap sama.
Kite Sampah Sebenernye
Pada akhirnya, “Kite Sampah Sebenernye” adalah kritik sosial yang disampaikan dengan cara yang sederhana, ringan, dan dekat. Lagu ini tidak menawarkan daftar solusi, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: perubahan cara pandang. Ia mengingatkan bahwa sampah bukan sesuatu yang terjadi pada kita, melainkan sesuatu yang kita ciptakan.
Dan mungkin, di situlah kekuatan karya ini: ia tidak memaksa, tetapi mengganggu. Ia tidak menggurui, tetapi mengingatkan. Karena setelah mendengar lagu ini, sulit untuk kembali melihat sampah sebagai sesuatu yang netral. Sampah menjadi pengingat kecil bahwa tanggung jawab itu selalu dimulai dari ‘kite.’
Ipank mengutarakan bahwa melalui lagu ini, ia menitipkan secuil harapan kepada masa depan. “Gue harap lagu ini bakalan jadi bantahan orang, ‘ah ini mah lagu kapan ini mah, ini mah lagu ga jelas. Sekarang tuh udah ga kayak gitu, sekarang tuh udah bersih. Udah canggih, teknologi pengolahan sampah udah dimane-mane, orangnye udeh pade bijak. Udeh mau ngolah masing-masing, pemerentah juge udeh sangat mendukung. Ah itu mah udeh ga gitu sekarang. Udeh bersih!’”
Lagu “Kite Sampah Sebenernye” karya Ipank Horehore bukan sekadar lagu tentang sampah. Ia adalah cermin yang dipasang di hadapan manusia, memaksa kita melihat bahwa persoalan sampah tidak berhenti pada plastik, botol, atau limbah yang menumpuk, tetapi berakar pada cara hidup, pola pikir, dan kebiasaan kita sendiri. “Jangan dulu salahin sampahnye Cobe longok liet dulu diri […]
Permasalahan sampah di Bali bukan cerita baru, hingga hari ini penanganan sampah masih menjadi isu yang terus berulang. Salah satu realitas paling jelas adalah kondisi buruk penanganan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Dalam beberapa tahun terakhir, wacana penutupan TPA ini bolak-balik mencuat akibat kelebihan kapasitas, pencemaran lingkungan, hingga tekanan dari masyarakat dan aktivis. Namun di […]
Indonesia terkenal dengan kekayaan alam dan budaya masyarakat lokalnya, salah satu budaya yang menarik dan mengakar bagi masyarakat Indonesia adalah kehadiran pasar tradisional yang bisa mengumpulkan pedagang dan pembeli dari berbagai kalangan. Rumekso Bhumi Festival berasal dari bahasa sanskerta dimana Rumekso berarti menjaga dan Bhumi berarti alam dunia, festival ini di inisiasi dari ide pasar tradisional di […]
Permasalahan sampah menjadi salah satu permasalahan yang krusial dan seperti tak ada ujungnya. Produksi sampah yang meningkat mulai dari skala rumah tangga, toko, hingga perusahaan skala besar membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi korban dari pola-pola kehidupan yang kurang bijak dalam mengelola sampah. Pola konsumtif yang terjadi hari ini dibarengi pula dengan sistem kapitalistik yang […]