Sampah dan Realita: Catatan Pengelolaan Sampah dari Bali dan Alternatif Pendampingan Sampah

Permasalahan sampah di Bali bukan cerita baru, hingga hari ini penanganan sampah masih menjadi isu yang terus berulang. Salah satu realitas paling jelas adalah kondisi buruk penanganan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Dalam beberapa tahun terakhir, wacana penutupan TPA ini bolak-balik mencuat akibat kelebihan kapasitas, pencemaran lingkungan, hingga tekanan dari masyarakat dan aktivis. Namun di sisi lain, ketergantungan Bali terhadap TPA Suwung masih sangat tinggi. Sampah dari rumah tangga, pariwisata, dan aktivitas ekonomi terus mengalir, sementara praktik pengurangan dan pemilahan di sumber belum berjalan konsisten. Kondisi ini berulang kali disorot dalam berbagai laporan dan pemberitaan, yang menunjukkan bahwa sebagian besar sampah yang masuk ke TPA Suwung masih tercampur meskipun kebijakan pemilahan telah lama dicanangkan. Data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bali, serta liputan media nasional dan lokal seperti Kompas, Mongabay Indonesia, dan Bali Tribune pada periode 2024–2025, mencatat bahwa sampah rumah tangga masih menjadi kontributor utama, disusul oleh sampah dari sektor pariwisata; hotel, restoran, dan kawasan wisata yang banyak menghasilkan plastik kemasan, sisa makanan, dan residu sekali pakai. Berbagai laporan organisasi lingkungan juga menyoroti bahwa pemilahan di tingkat desa dan permukiman sering terhenti pada tahap penyediaan fasilitas, tanpa didukung sistem pengangkutan dan pengolahan yang konsisten.

Di tingkat kebijakan, Bali sebenarnya tidak kekurangan regulasi. Larangan botol plastik sekali pakai, program pemilahan sampah dari sumber, hingga dorongan pengelolaan berbasis desa adat sudah banyak dicanangkan. Namun di lapangan, jurang antara kebijakan dan praktik masih terasa lebar. Pemilahan sering kali berhenti sebagai imbauan, bukan kebiasaan. Sosialisasi dilakukan, tetapi tidak selalu disertai pendampingan yang memastikan pemahaman bersama.

Pengalaman ini juga saya rasakan secara personal di lingkungan kos tempat saya tinggal, di Banjar Gulingan Tengah, Mengwi. Sejak akhir tahun lalu, pengelola sampah dari TPS3R mulai menerapkan sistem pemilahan di kos dengan menyediakan empat kantong sampah dan dua ember untuk jenis sampah yang berbeda. Kos ini terdiri dari enam bilik: tiga diantaranya dihuni keluarga dengan anak kecil, sementara dua lainnya dihuni oleh penghuni yang relatif sering berganti.

Pada awalnya, antusiasme cukup tinggi, warga kos berusaha memilah sampah mereka. Namun seiring waktu, muncul kebingungan. Sosialisasi hanya dilakukan lewat poster, tanpa diskusi bersama atau penjelasan langsung. Akibatnya, pemilahan seringkali keliru. Beberapa kali, petugas pengangkut sampah mengoreksi isi kantong. Menurut salah satu penghuni, petugas sendiri tidak selalu konsisten, styrofoam kadang diminta masuk ke kantong khusus plastik, kadang ke anorganik. Hal serupa terjadi pada tisu, yang posisinya abu-abu antara organik, anorganik, atau  pada sampah B3 (bahan berbahaya beracun) rumah tangga.

Masalah berikutnya justru paling mematahkan semangat: sampah yang sudah dipilah dengan susah payah kembali dicampur saat proses pengangkutan. Di titik ini, niat baik warga perlahan berubah menjadi kekecewaan. Pemilahan terasa sia-sia, bukan karena warga tidak mau, tetapi karena sistem di sekitarnya belum siap menopang kebiasaan baru ini.

Pengalaman kecil di kos ini mencerminkan persoalan yang lebih besar di Bali. Bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar soal menyediakan tempat sampah berbeda warna atau memasang poster edukasi. Ia membutuhkan kesepahaman, konsistensi, dan sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

Di sinilah Get Plastic hadir dengan program kemitraan yang dirancang untuk menjawab celah ini. Get Plastic melakukan pendekatan berbasis pendampingan. Pendampingan dalam konteks pengelolaan sampah berarti tidak berhenti pada pemberian alat, teknologi, atau aturan, tetapi menemani proses perubahan itu sendiri. Pendampingan memastikan bahwa setiap pihak yang terlibat; warga, pengelola, hingga operator memiliki pemahaman yang sama, ruang untuk bertanya, dan kesempatan untuk belajar dari praktik sehari-hari. Dengan pendampingan, pengelolaan sampah diperlakukan sebagai proses sosial dan teknis yang berjalan bersamaan, bukan sekadar proyek sekali jalan. 

Langkah awal dari pendampingan ini adalah asesmen. Asesmen dilakukan untuk membaca kondisi nyata di lapangan sebelum solusi ditentukan. Dalam proses ini, tim Get Plastic menggali informasi tentang bagaimana sampah saat ini dikelola, jenis dan volume sampah yang dihasilkan, kebiasaan masyarakat atau pekerja, serta dinamika sosial yang mempengaruhi perilaku pengelolaan sampah. Asesmen juga melihat keterbatasan yang ada, baik dari sisi ruang, sumber daya manusia, maupun kesiapan organisasi.

Hasil asesmen inilah yang menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan sampah. Rekomendasi tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan konteks masing-masing mitra. Di dalamnya mencakup strategi pendekatan kepada warga atau pekerja, skema pemilahan dan alur pengelolaan sampah, hingga perhitungan kapasitas serta spesifikasi mesin yang benar-benar dibutuhkan. Dengan cara ini, solusi yang dirancang tidak berdiri di atas asumsi, melainkan berangkat dari realitas sehari-hari. Setelah disepakati, proses pendampingan dilakukan secara menyeluruh: mulai dari pendampingan pemilahan di tingkat masyarakat, pembentukan dan penguatan tim waste management, hingga pelatihan operator lokal untuk mengoperasikan mesin pirolisis.

Dalam proses pendampingan tersebut, tim Get Plastic juga kerap berhadapan dengan tantangan lain, khususnya saat bekerja sama dengan perusahaan. Tidak sedikit mitra yang datang dengan orientasi kuat pada efisiensi biaya dan potensi pendapatan. Pengelolaan sampah dilihat sebagai cara menekan pengeluaran atau bahkan menghasilkan energi dan keuntungan tambahan.

Pendekatan ini tidak sepenuhnya salah. Pengelolaan sampah yang baik memang berdampak pada pengurangan biaya jangka panjang, mulai dari pengangkutan, tipping fee, hingga risiko lingkungan. Lingkungan yang lebih bersih juga meningkatkan kesehatan dan kenyamanan. Namun ketika fokus terlalu berat pada angka pendapatan, aspek utama justru sering terabaikan: kesiapan sistem dan manusia yang menjalankannya.

Di titik inilah diskusi tentang waste to energy sering muncul. Teknologi ini kerap diposisikan sebagai solusi besar, seolah-olah sampah bisa langsung diubah menjadi energi dan masalah selesai. Padahal, waste to energy bukan jalan pintas dan tidak cocok untuk semua kondisi. Teknologi ini hanya masuk akal jika ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang utuh, khususnya untuk menangani sampah plastik low value yang memang sulit didaur ulang.

Dalam kerangka ini, energi dari waste to energy atau energi yang dihasilkan dari pengolahan sampah sebaiknya dipahami sebagai hasil dari sistem yang berjalan baik. Tanpa pemilahan yang konsisten, tanpa upaya pengurangan sampah di sumber, dan tanpa tim pengelola yang memahami alur kerjanya, teknologi waste to energy tidak hanya gagal mencapai target, tetapi juga berpotensi menambah biaya operasional dan kompleksitas pengelolaan.

Pengelolaan sampah yang berdampak memang jarang memberi hasil instan. Namun manfaatnya nyata dan luas: lingkungan yang lebih bersih, sistem yang lebih stabil, serta biaya jangka panjang yang lebih terkendali. Bali tidak kekurangan niat baik maupun teknologi. Tantangannya adalah membangun sistem yang berpihak pada proses: pelan, kontekstual, dan melibatkan manusia di dalamnya.

Catatan sumber:

Gerakan Tarik Plastik dari Sampah ke Energi Alternatif

Permasalahan sampah menjadi salah satu permasalahan yang krusial dan seperti tak ada ujungnya. Produksi sampah yang meningkat mulai dari skala rumah tangga, toko, hingga perusahaan skala besar membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi korban dari pola-pola kehidupan yang kurang bijak dalam mengelola sampah. Pola konsumtif yang terjadi hari ini dibarengi pula dengan sistem kapitalistik yang memproduksi barang-barang industri secara masal. Meningkatnya kebutuhan manusia terhadap produk-produk tersebut menghasilkan lebih banyak sampah dalam kehidupan sehari-hari kita.

Menurut jenisnya, secara umum sampah dibedakan menjadi dua jenis yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik termasuk sampah yang mudah terurai karena sampah jenis ini dihasilkan langsung oleh alam, sehingga apapun yang berasal dari alam maka akan mudah terurai di alam. Sementara itu, sampah jenis kedua merupakan sampah anorganik, sampah ini termasuk yang lebih sulit diurai tanah karena kandungan yang ada di dalamnya. Sampah anorganik atau yang biasa dikenal dengan sebutan sampah plastik menjadi permasalahan krusial yang kita hadapi hari-hari ini.

Merujuk data dari Mongabay (2019) produksi sampah di Bali mencapai angka 4.281 ton per harinya, dari data tersebut hanya 48% sampah yang dikelola dan 52% sisanya tidak dikelola dengan baik. Data tersebut menunjukkan bahwa manajemen pengelolaan sampah di Bali belum mencapai pengelolaan yang maksimal dan signifikan. Sedikitnya jumlah sampah yang dikelola berujung pada penumpukan sampah di TPA. Menumpuknya sampah di TPA diperparah dengan bercampurnya sampah jenis organik dan anorganik yang membuat proses penguraian menjadi kurang maksimal.

Timbulan yang terjadi di TPA sebenarnya membawa kerugian yang berlipat, selain sampah yang tercampur dan tidak terurai dengan baik, sampah yang menumpuk juga cenderung bocor ke pantai dan menyebabkan kerusakan ekologi yang lebih buruk, ditambah lagi potensi kebakaran pada TPA yang mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar. Sebanyak 50% sampah di Bali berasal dari tiga kabupaten yaitu Badung, Gianyar dan Denpasar, dari sampah yang dibuang tersebut 70% diantaranya berakhir di TPA Suwung, Denpasar. Banyaknya kabupaten yang membuang sampahnya di TPA Suwung membuat timbunan sampah di Suwung membludak. Kapasitas yang membludak tersebut juga berimbas pada larangan bagi Kabupaten Badung untuk membuang sampah mereka ke TPA Suwung. Larangan tersebut membuat pemangku kebijakan di Kabupaten Badung secara khusus menyiapkan strategi pengolahan sampah yang baru.

Metode Alternatif

Badung sebagai salah satu kabupaten yang menyumbang sampah ke TPA Suwung mulai menggalakkan kampanye olah sampah dari rumah masing-masing. Strategi tersebut dilakukan lantaran sarana dan prasarana dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) belum juga rampung. Sampah-sampah rumah tangga kemudian diolah di rumah dengan memisahkan sampah organik dan dijadikan kompos, kemudian sampah anorganik dipilah untuk dikumpulkan pada bank sampah di masing-masing banjar. Meski demikian, belum ada penilaian yang pasti terhadap keberhasilan langkah tersebut sebab di beberapa desa salah satunya desa yang saya tinggali di Desa Darmasaba, sampah rumah tangga belum dipilah dengan baik dan hanya dikumpulkan dan diambil oleh petugas sampah keliling yang diinisiasi oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kurangnya kesadaran dan edukasi terhadap warga juga menjadi faktor sampah tersebut tidak diolah dengan baik dan hanya ditampung di TPS/TPA.

Di sisi lain, upaya untuk mengelola sampah juga marak dikampanyekan oleh beberapa Non Government Organization (NGO) yang ada di Bali, berbagai latar belakang NGO bergerak untuk menuntaskan permasalahan lingkungan terutama sampah yang ada di Bali. Salah satu NGO yang berfokus pada permasalahan sampah plastik adalah Get Plastic Foundation. Sejak tahun 2017 Get Plastic Foundation resmi berbadan hukum dan menginisiasi gerakan tarik plastik atau yang kemudian disingkat dengan sebutan Get Plastic. Berbasis di Desa Sibangkaja, Abiansemal, Badung organisasi non-profit ini tumbuh dan melakukan kerja-kerja terkait pengelolaan dan pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Sebagai organisasi non-profit, Get Plastic memiliki visi meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pengolahan sampah plastik menjadi BBM dengan alat yang mereka kembangkan secara mandiri. Kerja-kerja yang mereka lakukan ditunjukkan melalui kegiatan pendampingan pada desa-desa di Indonesia termasuk Bali dan Jawa. Di Bali sendiri pendampingan dilakukan di daerah Singaraja dan Abiansemal. Sementara di Jawa pendampingan dilakukan pada desa di Banyuwangi dan Pulau Pramuka, Jakarta. Pendampingan dan edukasi pada desa-desa dilakukan dengan tujuan awal mereka menarik sampah plastik mulai dari skala terkecil yaitu desa. Hal ini dilakukan karena penyelesaian masalah sampah plastik akan teratasi jika masyarakat dapat secara sadar memahami pengolahan sampah mereka sejak awal secara mandiri.

Get Plastic sendiri menginisiasi sebuah alat pengolahan sampah plastik yang mereka kembangkan secara mandiri, metode yang digunakan dalam pengolahan sampah plastik ini adalah metode pirolisis. Metode pirolisis pertama kali ditemukan di Jepang dan dijadikan metode untuk melakukan pengolahan sampah plastik yang sulit terurai. Pirolisis adalah metode dekomposisi bahan organik yang terdapat pada sampah plastik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen dan pereaksi kimia lainnya. Proses dekomposisi tersebut yang nantinya akan menghasilkan output berupa bahan bakar solar dan bensin. Get Plastic sendiri mengembangkan alat yang sebelumnya dirangkai menggunakan bahan bekas, namun untuk mewujudkan misi yang lebih luas alat kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahan stainless steel untuk mendukung daya alat yang lebih kuat dan tahan lama. Komponen yang digunakan dalam alat tersebut terdiri dari komponen reaktor, kondensor, tabung penyimpanan minyak, serta penyaring gas dengan teknik hidrokarbon.

Menginisiasi Tur Berbahan Bakar Sampah Plastik

Pada tahun 2018, Dimas Bagus Wijanarko salah satu Founder Get Plastic menginisiasi sebuah perjalanan ramah lingkungan sejauh 1200 km. Perjalanan ramah lingkungan (sustainable tour) tersebut dilakukan dengan mengendarai motor Vespa yang sepenuhnya diisi menggunakan bahan bakar dari hasil olahan sampah plastik. Perjalanan dari Jakarta-Bali tersebut tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai perjalanan terjauh dengan Vespa dan menggunakan bahan bakar dari olahan sampah plastik. Perjalanan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa sampah plastik yang susah diurai nyatanya mampu diubah menjadi bahan bakar solar dan bensin. Selain itu, tentu saja tujuan utama untuk mengatasi permasalahan sampah plastik mampu dilakukan dengan metode pirolisis tersebut.

Hingga kini perjalanan ramah lingkungan masih terus diupayakan untuk memberi informasi dan membangun kesadaran kepada khalayak luas bahwasanya sampah plastik masih dapat diolah menjadi energi baru seperti bahan bakar minyak (BBM) tersebut. Kerja-kerja yang diupayakan Get Plastic juga menitip harapan terkait penyelesaian permasalahan sampah plastik sesegera mungkin, sebab permasalahan sampah yang tak ada ujungnya hanya akan mewariskan beban dan dampak buruk ekologi bagi generasi mendatang. Sejalan dengan taglinenya No Plastic Goes to Waste, Get Plastic memberi harapan baru bahwa tak ada satu sampah plastik pun yang akan terbuang sia-sia.

2023 Recap at Get Plastic Learning Centre

Sebentar lagi tahun 2023 berganti, tak terasa banyak sekali hal-hal luar biasa yang diupayakan oleh kawan-kawan Get Plastic. Get Plastic Learning Centre selalu hadir menyediakan ruang untuk menjalin kreativitas dalam pengelolaan dan pengolahan sampah plastik menjadi energi.

Di tahun 2023 ini kami berkesempatan untuk memperluas cakupan wilayah dampingan kami hingga ke Pulau Harapan, Bogor, Pulau Bungin, dan Papua. Selain memperluas mitra dampingan dan menjalankan waste management berbasis pengolahan akhir dengan teknologi pirolisis, kami pun melakukan kegiatan pengelolaan dan pengolahan sampah plastik di Get Plastic Learning Centre, Bali.

Setiap tahunnya, Get Plastic mengedukasi rumah tangga dan warung di sekitar Get Plastic agar mereka memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan sampah plastik mulai dari hulu sampahnya. Tanggung jawab ini penting untuk menyelesaikan sampah plastik langsung dari sumbernya. Di tahun 2023, sebanyak 30 donatur berhasil kami sasar dan mereka mendonasikan sampah plastiknya ke Get Plastic Learning Centre.

Dari 30 donatur ini, kami berhasil mengumpulkan sampah plastik low-value sebanyak 1,6 ton. Semua sampah plastik ini dipilah langsung dan diolah menjadi bahan bakar minyak. Yang menarik adalah, seluruh hasil dari proses pengolahan sampah plastik ini didonasikan kepada petani, rumah tangga, atau mitra Get Plastic yang membutuhkan solar untuk kebutuhan operasional mereka. Dengan demikian, sampah plastik tidak lagi menjadi masalah dan hasil dari pengolahan sampah plastik bisa menjadi nilai tambah dalam pemenuhan energi untuk masyarakat luas.

Live In dan Belajar di Get Plastic

Setiap tahunnya Get Plastic menerima kunjungan dari mahasiswa dari berbagai kampus serta volunteer yang berasal dari berbagai negara dengan beragam latar belakang. Kunjungan yang dilakukan adalah untuk mengenal Yayasan Get Plastic Indonesia serta mempelajari proses pengelolaan dan pengolahan sampah plastiK menjadi Bahan Bakar Minyak dengan proses pirolisis yang dilakukan oleh Get Plastic. 

Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai pengelolaan dan pengolahan sampah plastik menjadi BBM kepada mahasiswa dan masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap isu lingkungan khususnya pengolahan sampah menjadi BBM agar dapat menjadi inspirasi penanganan permasalahan sampah plastik di lingkungan. 

Program kunjungan dan live in ini juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan bagi mahasiswa yang ingin magang. Selain menyasar mahasiswa, program belajar di Get Plastic juga menyasar masyarakat umum dan komunitas agar dapat menjadi pengimbas manajemen sampah plastik terhadap lingkungan yang lebih luas. Program ini akan diselenggarakan dengan mengedepankan kegiatan sosialisasi rumah tangga terkait pemilahan sampah plastik, pelatihan dan pengolahan sampah plastik dengan pirolisis, serta distribusi output dari pengolahan sampah plastik kepada penerima manfaat.

Tujuan program yang sangat beragam seperti:

  1. Mengedukasi tentang pengolahan sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan proses pirolisis
  2. Memberikan pemahaman terkait soft skill mahasiswa magang
  3. Menjalin kerjasama dengan universitas untuk mendukung program Yayasan Get Plastic Indonesia terutama dalam program pendampingan masyarakat

Hasil yang diharapkan diperoleh dari kegiatan ini: mahasiswa magang memahami inovasi pirolisis dan manajemen pengolahan sampah plastik menjadi BBM, mampu merumuskan proyek akhir berupa mini program yang terkait dengan isu lingkungan, serta mampu mengimplementasikan soft skill yang didapat dari program yang sudah dilakukan.

    Get Plastic Learning Centre – Yayasan Allianz Indonesia

    “Sosialisasi tanpa implementasi hanya wacana belaka”.

    Memberikan solusi secara nyata adalah salah satu misi Get Plastic menuju Indonesia bebas sampah plastik bukan bebas plastik.

    Berangkat dari sebuah keperhatinan dan kepedulian akan keadaan bangsa ini sebagai negara terbesar kedua penyumbang sampah plastik kami merasa perlu bergerak menemukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini. Mengikuti sebuah kompetisi dipenghujung tahun 2019 “Sosial Innovation Fund 2019” yang di adakan oleh Yayasan Allianz Indonesia dengan tema “Keberlangsungan lingkungan hidup serta pemberdayaan kaum muda”. Dan Get Plastic pun memenangkan kompetisi tersebut.

    Kerjasama GetPlastic dan Yayasan Allianz Indonesia mulai berjalan di awal tahun 2020, Dimulai dengan pembangunan learning center yang berlokasi di rumah Get Plastic, Bali.

    Di dalam progam pembangunan learning center ini akan ada tempat workshop sebagai sarana Get Plastic untuk melakukan RnD mesin pengolahan sampah plastik menjadi BBM, selain itu ada juga rumah bambu yang akan kami gunakan sebagai tempat diskusi dan edukasi bagi pengunjung yang ingin mengetahui lebih banyak kegiatan kami (Get Plastic).

    Get Plastic Foundation

    Bali, 30 Juni 2020

    Penghargaan Rekor Muri untuk Get Plastic

    Cita-cita kami adalah membebaskan Indonesia dari sampah plastik, melalui program yang kami buat dan dijalankan, dengan alat sederhana dan vespa tua, kami telah membuktikan bahwa segala sesuatu yang tadinya bukan apa-apa menjadi sesuatu yang berguna. 1.200 Km perjalanan yang di tempuh oleh Dimas Bagus Wijanarko dengan vespa tua berbahan bakar hasil olahan sampah plastik menjadi bbm, dari Jakarta menuju pulau Dewata.

    Kami yakin, kami tidak berjalan sendiri, pun tak jua berharap apresiasi. Tapi, Museum Rekor Indonesia ternyata melihat kami, memberi semangat perjuangan kami. 9 Agustus 2018 lalu, kami diminta untuk hadir dalam sebuah acara resmi, untuk menerima penghargaan MURI.. “Bangga bisa berkenalan dengan anak2 muda Indonesia yg peduli lingkungan.  Dengan teknologi sederhana mereka merubah sampah plastik menjadi bahan bakar..”

    Terima kasih kepada Mars. TNI (purn) Chappy Hakim yg telah meluangkan waktu menjadi tamu kehormatan Museum Rekor-Dunia Indonesia dan berkenan menyerahkan Piagam Penghargaan Rekor untuk komunitas “Get Plastic” : “Perjalanan Terjauh dengan Vespa Berbahan Bakar dari Sampah Plastik”.

    (1.200 km, Jakarta – Bali)