Sampah dan Realita: Catatan Pengelolaan Sampah dari Bali dan Alternatif Pendampingan Sampah

Permasalahan sampah di Bali bukan cerita baru, hingga hari ini penanganan sampah masih menjadi isu yang terus berulang. Salah satu realitas paling jelas adalah kondisi buruk penanganan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Dalam beberapa tahun terakhir, wacana penutupan TPA ini bolak-balik mencuat akibat kelebihan kapasitas, pencemaran lingkungan, hingga tekanan dari masyarakat dan aktivis. Namun di sisi lain, ketergantungan Bali terhadap TPA Suwung masih sangat tinggi. Sampah dari rumah tangga, pariwisata, dan aktivitas ekonomi terus mengalir, sementara praktik pengurangan dan pemilahan di sumber belum berjalan konsisten. Kondisi ini berulang kali disorot dalam berbagai laporan dan pemberitaan, yang menunjukkan bahwa sebagian besar sampah yang masuk ke TPA Suwung masih tercampur meskipun kebijakan pemilahan telah lama dicanangkan. Data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bali, serta liputan media nasional dan lokal seperti Kompas, Mongabay Indonesia, dan Bali Tribune pada periode 2024–2025, mencatat bahwa sampah rumah tangga masih menjadi kontributor utama, disusul oleh sampah dari sektor pariwisata; hotel, restoran, dan kawasan wisata yang banyak menghasilkan plastik kemasan, sisa makanan, dan residu sekali pakai. Berbagai laporan organisasi lingkungan juga menyoroti bahwa pemilahan di tingkat desa dan permukiman sering terhenti pada tahap penyediaan fasilitas, tanpa didukung sistem pengangkutan dan pengolahan yang konsisten.

Di tingkat kebijakan, Bali sebenarnya tidak kekurangan regulasi. Larangan botol plastik sekali pakai, program pemilahan sampah dari sumber, hingga dorongan pengelolaan berbasis desa adat sudah banyak dicanangkan. Namun di lapangan, jurang antara kebijakan dan praktik masih terasa lebar. Pemilahan sering kali berhenti sebagai imbauan, bukan kebiasaan. Sosialisasi dilakukan, tetapi tidak selalu disertai pendampingan yang memastikan pemahaman bersama.

Pengalaman ini juga saya rasakan secara personal di lingkungan kos tempat saya tinggal, di Banjar Gulingan Tengah, Mengwi. Sejak akhir tahun lalu, pengelola sampah dari TPS3R mulai menerapkan sistem pemilahan di kos dengan menyediakan empat kantong sampah dan dua ember untuk jenis sampah yang berbeda. Kos ini terdiri dari enam bilik: tiga diantaranya dihuni keluarga dengan anak kecil, sementara dua lainnya dihuni oleh penghuni yang relatif sering berganti.

Pada awalnya, antusiasme cukup tinggi, warga kos berusaha memilah sampah mereka. Namun seiring waktu, muncul kebingungan. Sosialisasi hanya dilakukan lewat poster, tanpa diskusi bersama atau penjelasan langsung. Akibatnya, pemilahan seringkali keliru. Beberapa kali, petugas pengangkut sampah mengoreksi isi kantong. Menurut salah satu penghuni, petugas sendiri tidak selalu konsisten, styrofoam kadang diminta masuk ke kantong khusus plastik, kadang ke anorganik. Hal serupa terjadi pada tisu, yang posisinya abu-abu antara organik, anorganik, atau  pada sampah B3 (bahan berbahaya beracun) rumah tangga.

Masalah berikutnya justru paling mematahkan semangat: sampah yang sudah dipilah dengan susah payah kembali dicampur saat proses pengangkutan. Di titik ini, niat baik warga perlahan berubah menjadi kekecewaan. Pemilahan terasa sia-sia, bukan karena warga tidak mau, tetapi karena sistem di sekitarnya belum siap menopang kebiasaan baru ini.

Pengalaman kecil di kos ini mencerminkan persoalan yang lebih besar di Bali. Bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar soal menyediakan tempat sampah berbeda warna atau memasang poster edukasi. Ia membutuhkan kesepahaman, konsistensi, dan sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

Di sinilah Get Plastic hadir dengan program kemitraan yang dirancang untuk menjawab celah ini. Get Plastic melakukan pendekatan berbasis pendampingan. Pendampingan dalam konteks pengelolaan sampah berarti tidak berhenti pada pemberian alat, teknologi, atau aturan, tetapi menemani proses perubahan itu sendiri. Pendampingan memastikan bahwa setiap pihak yang terlibat; warga, pengelola, hingga operator memiliki pemahaman yang sama, ruang untuk bertanya, dan kesempatan untuk belajar dari praktik sehari-hari. Dengan pendampingan, pengelolaan sampah diperlakukan sebagai proses sosial dan teknis yang berjalan bersamaan, bukan sekadar proyek sekali jalan. 

Langkah awal dari pendampingan ini adalah asesmen. Asesmen dilakukan untuk membaca kondisi nyata di lapangan sebelum solusi ditentukan. Dalam proses ini, tim Get Plastic menggali informasi tentang bagaimana sampah saat ini dikelola, jenis dan volume sampah yang dihasilkan, kebiasaan masyarakat atau pekerja, serta dinamika sosial yang mempengaruhi perilaku pengelolaan sampah. Asesmen juga melihat keterbatasan yang ada, baik dari sisi ruang, sumber daya manusia, maupun kesiapan organisasi.

Hasil asesmen inilah yang menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan sampah. Rekomendasi tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan konteks masing-masing mitra. Di dalamnya mencakup strategi pendekatan kepada warga atau pekerja, skema pemilahan dan alur pengelolaan sampah, hingga perhitungan kapasitas serta spesifikasi mesin yang benar-benar dibutuhkan. Dengan cara ini, solusi yang dirancang tidak berdiri di atas asumsi, melainkan berangkat dari realitas sehari-hari. Setelah disepakati, proses pendampingan dilakukan secara menyeluruh: mulai dari pendampingan pemilahan di tingkat masyarakat, pembentukan dan penguatan tim waste management, hingga pelatihan operator lokal untuk mengoperasikan mesin pirolisis.

Dalam proses pendampingan tersebut, tim Get Plastic juga kerap berhadapan dengan tantangan lain, khususnya saat bekerja sama dengan perusahaan. Tidak sedikit mitra yang datang dengan orientasi kuat pada efisiensi biaya dan potensi pendapatan. Pengelolaan sampah dilihat sebagai cara menekan pengeluaran atau bahkan menghasilkan energi dan keuntungan tambahan.

Pendekatan ini tidak sepenuhnya salah. Pengelolaan sampah yang baik memang berdampak pada pengurangan biaya jangka panjang, mulai dari pengangkutan, tipping fee, hingga risiko lingkungan. Lingkungan yang lebih bersih juga meningkatkan kesehatan dan kenyamanan. Namun ketika fokus terlalu berat pada angka pendapatan, aspek utama justru sering terabaikan: kesiapan sistem dan manusia yang menjalankannya.

Di titik inilah diskusi tentang waste to energy sering muncul. Teknologi ini kerap diposisikan sebagai solusi besar, seolah-olah sampah bisa langsung diubah menjadi energi dan masalah selesai. Padahal, waste to energy bukan jalan pintas dan tidak cocok untuk semua kondisi. Teknologi ini hanya masuk akal jika ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang utuh, khususnya untuk menangani sampah plastik low value yang memang sulit didaur ulang.

Dalam kerangka ini, energi dari waste to energy atau energi yang dihasilkan dari pengolahan sampah sebaiknya dipahami sebagai hasil dari sistem yang berjalan baik. Tanpa pemilahan yang konsisten, tanpa upaya pengurangan sampah di sumber, dan tanpa tim pengelola yang memahami alur kerjanya, teknologi waste to energy tidak hanya gagal mencapai target, tetapi juga berpotensi menambah biaya operasional dan kompleksitas pengelolaan.

Pengelolaan sampah yang berdampak memang jarang memberi hasil instan. Namun manfaatnya nyata dan luas: lingkungan yang lebih bersih, sistem yang lebih stabil, serta biaya jangka panjang yang lebih terkendali. Bali tidak kekurangan niat baik maupun teknologi. Tantangannya adalah membangun sistem yang berpihak pada proses: pelan, kontekstual, dan melibatkan manusia di dalamnya.

Catatan sumber:

Get Plastic Goes to Raja Ampat

Kegiatan pelatihan Get Plastic ini, hadir atas kerjasama program bersama komunitas Orang Kawe di Teluk Alyui, Raja Ampat, Papua. Kegiatan ini berlangsung selama 7 hari yaitu dari tanggal 18 Agustus 2023 - 24 Agustus 2023. Tim Get Plastic yang terlibat dalam kegiatan selama pelatihan di Alyui, Papua adalah Cresentiana Grace Endo, Didit Galih Sumono, Samiun Muttaqin, dan Rocky Ferico. 

Kegiatan pelatihan ini meliputi pengoperasian mesin pirolisis GPM 14, pelatihan pemilahan sampah plastik, pelatihan pemanfaatan residu sisa pengolahan sampah plastik, dan pelatihan perawatan mesin pirolisis GPM 14. Pelatihan intensif selama 7 hari diikuti oleh 6 orang yang terdiri dari petugas penanganan sampah (sebagai pemilah sampah), tim bengkel dan kelistrikan (sebagai operator mesin) dari Alyui.

Pelatihan in juga sekaligus mengedukasi anak-anak SD Selpele, dan ibu-ibu pengrajin di Desa Selpele yang berlokasi dekat dengan site pyrolysis. Dari pelatihan dan edukasi ini, diharapkan semua peserta yang terlibat dapat bertanggung jawab dalam mengolah sampah plastik yang dihasilkan setiap harinya. Serta dapat menggunakan hasil pengolahan dari sampah plastik untuk kebutuhan BBM disana.

Kondisi Awal Lokasi Penempatan Mesin

Penempatan mesin pirolisis GPM 14 kali ini bekerjasama dengan tim penangkaran mutiara yang sadar akan kebersihan lingkungan di lokasi, mereka memiliki petugas khusus untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menangani masalah sampah. Terlihat juga mereka memiliki tempat sampah berdasarkan jenis sampah di setiap sudut tempat yang dibagi menjadi sampah plastik, sampah kertas, sampah botol kaca, dan sampah botol plastik. Dominasi sampah yang ada disana adalah sampah plastik, sampah tali dan jaring-jaring.

Untuk mengolah sampah-sampah ini mereka memiliki mesin penghancur kaca untuk sampah botol, mesin pencacah dan mesin press untuk sampah plastik jenis HDPE. Sedangkan untuk pengolahan sampah organik sisa makanan dan dapur mereka menyimpannya dalam tempat khusus dan setiap harinya mereka berlayar ke tengah laut untuk memberikan sampah organik ini pada ikan-ikan di laut. Untuk sampah-sampah yang tidak bisa terolah selama ini akan dibakar di tempat pembakaran.

Tim lokal disana juga sudah mulai memisahkan sampah plastik berdasarkan bentuknya dan memisahkan sampah tali dan sampah jaring-jaring. Namun, tim lokal belum memahami pemilahan sampah plastik berdasarkan jenisnya. Kondisi sampah yang diperoleh dari lingkungan kerja terkadang masih basah dan bercampur dengan organik.

Ketika Sampah Plastik Menghantui Laut dan Wilayah Pesisir Indonesia

Sampah plastik terlihat mengapung di sepanjang pesisir pantai dekat dermaga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Sejauh mata memandang, di tengah birunya laut Pulau Pramuka masih banyak sampah-sampah yang mampir ke pesisir pantainya. Selepas turun dari kapal, saya memperhatikan bagaimana sampah-sampah ini bisa menyapu lautan dan kembali lagi ke darat.

Menurut beberapa masyarakat lokal, pemandangan itu adalah hal biasa, bisa jadi juga sampah plastik itu merupakan sampah kiriman dari Jakarta akibat angin musim barat. Namun tak menutup kemungkinan pula, ada beberapa masyarakat yang masih membuang sampah rumah tangga mereka ke laut, seringkali tak ada pilihan bagi mereka.

“Kalau gak dibuang bau mbak, biasanya kalau gak diambil petugas, ya dibuang ke laut” terang salah satu pedagang di Pulau Pramuka, selepas kegiatan volunteer yang saya lakukan untuk mendata rumah tangga yang memilah sampah di Pulau Pramuka.

Pada tahun 2015, dunia digemparkan dengan hasil riset dari Jenna Jambeck yang menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah China.

Riset yang fenomenal ini kemudian membuat berbagai gerakan pengelolaan dan pengolahan sampah laut mulai muncul. Salah satunya adalah Pulau Pramuka, pada tahun 2020 saya berkesempatan melakukan kegiatan volunteer bersama Yayasan Get Plastic Indonesia, sebuah organisasi yang berfokus pada pengelolaan dan pengolahan sampah plastik menjadi BBM melalui proses pirolisis.

Pulau Pramuka menjadi salah satu wilayah yang diintervensi untuk piloting mesin pirolisis ini, bekerjasama dengan Yayasan Rumah Literasi Hijau, program ini menjadi salah satu jawaban untuk menyelesaikan sampah plastik yang ada di wilayah pesisir, terutama sampah-sampah plastik tak bernilai yang tidak diterima oleh pengepul atau bank sampah.

Sampah plastik tentu menjadi momok menakutkan bagi kita semua, terlebih wilayah pesisir yang secara akses jauh lebih sulit untuk mengakses sarana-sarana pengelolaan dan pengolahan sampah. Bahkan, untuk kasus Pulau Pramuka, mereka rutin mengirimkan sampah dari pulau ke TPA Bantar Gebang.

Inovasi yang mampu menjawab tantangan ini diperlukan sehingga permasalahan sampah terutama sampah plastik dapat diselesaikan secara langsung di wilayah pulau.

Pulau Pramuka, Bertahan dari Permasalahan Sampah Plastik
Sampah plastik bukan menjadi permasalahan baru di Indonesia, salah kelola dan sulitnya material plastik untuk terurai menjadi penyebab utama bahayanya sampah plastik bagi alam. Terlebih bagaimana sampah plastik ini berpengaruh di wilayah pesisir, dimana akses sarana TPA sangat minim, bahkan belum ada sistem pengolahan yang dapat menjawab tantangan ini.

Hal ini juga dikuatkan dengan penelitian yang diterbitkan Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention On Biological Diversity) pada 2016, dimana dijelaskan bahwa sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies laut yang ada.

Sampah plastik menjadi salah satu yang bahaya, dimana ia menyebabkan terancamnya biota laut karena karakteristiknya yang sulit terurai secara alami. Hal yang lebih menyeramkan dijelaskan BBC (2021) dimana paus di Wakatobi memakan sebanyak 115 plastik dan sandal jepit, ancaman yang serius bagi biota laut kita hari ini.

Maraknya kasus-kasus kerusakan biota laut akibat sampah plastik, membuat Yayasan Get Plastic Indonesia jengah untuk membangun sistem pengolahan sampah plastik melalui pirolisis secara remote dengan mesin yang low-tech solusi ini dapat mengolah sampah plastik menjadi BBM sejenis solar dan bensin, selain itu mesin ini juga menghasilkan gas propilen dimana semua keluaran dari mesin ini dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional nelayan seperti bahan bakar kapal, gas propilen untuk menyalakan genset dan berbagai mesin lainnya yang disuplai oleh solar atau bensin.

Keberhasilan Pulau Pramuka dalam pilot pengolahan sampah plastik menjadi BBM ini juga berkat kerja keras dari Yayasan Rumah Literasi Hijau yang membuat program dapat berjalan dengan berkelanjutan.

Selain mengolah sampah dari tiap rumah tangga di Pulau Pramuka, Yayasan Rumah Literasi Hijau yang dikepalai oleh Ibu Mahariah Sandre juga menginisiasi program pengolahan sampah plastik untuk nelayan, dimana program ini dikenal dengan barter BBM berupa solar, dengan mekanisme nelayan mengumpulkan 3 kg sampah plastiknya dari laut untuk ditukarkan dengan 1 liter BBM hasil pirolisis.

Skema pengolahan sampah plastik ini dapat dijadikan salah satu opsi untuk mengurangi sampah plastik yang terbuang ke laut yang membahayakan biota laut.

Proses ini juga dapat dijadikan salah satu strategi bertahan dari kelangkaan solar di kemudian hari, jika pilot ini dapat dikembangkan lebih lanjut makan masyarakat pesisir akan memiliki nilai tawar terhadap kebutuhan energi di pulaunya sendiri. Selain mampu menjawab tantangan pengelolaan dan pengolahan sampah plastiknya, mereka juga mampu sintas dalam keadaan sulit akan akses energi.

Mengelola Sampah Plastik Menjadi Energi
Sepanjang tahun 2020-2021, pendampingan intensif dilakukan oleh Yayasan Get Plastic Indonesia untuk melihat bagaimana solusi pirolisis ini dapat menjangkau kebutuhan akan akses pengolahan sampah plastik di pesisir.

Program ini juga menjadi rujukan bagaimana cadangan energi dapat diupayakan apabila masyarakat mampu menggerakkan usaha kolektif dalam pengolahan sampah plastik ini.

Menurut catatan dari Yayasan Get Plastic Indonesia, sebanyak 279,9 kg sampah plastik diolah selama 2 bulan menjadi 184,31 liter BBM sejenis solar. Hasil keluaran dari metode ini menjadi salah satu catatan untuk kita dapat mengelola sampah plastik yang ada di pesisir agar tidak masuk dan mencemari ekosistem bawah laut kita lagi.

Seperti yang dijelaskan KLHK (2021) bahwa dalam 15 tahun terakhir Indonesia menghadapi tantangan besar dalam produksi sampah plastik karena jumlah dan fraksi sampah plastik terus meningkat yang, dimana sebagian besar dihasilkan dari barang-barang plastik sekali pakai seperti kantong plastik, kemasan plastik fleksibel (sachet dan pouch), sedotan plastik, dan wadah busa plastik (styrofoam).

Plastik sekali pakai ini merupakan salah satu jenis yang sering ditemui di Pulau Pramuka, melalui metode pengelolaan sampah plastik menjadi energi ini, banyak harapan terucap agar perairan Indonesia dapat bersih dari sampah plastik dan masyarakat pesisirnya dapat menjadi pioner dalam penyelesaian masalah ini.

Posisi Perempuan dan Ekosistem Pesisir
Peran masyarakat pesisir dalam penjagaan ekosistem bawah laut menjadi salah satu yang utama, namun dimanakah posisi perempuan pesisir dalam keberlangsungan ekosistemnya?

Nyatanya, peran perempuan menjadi sangat krusial, entah apapun pekerjaannya dalam ekosistem kelautan. Hal ini dapat dilihat dari sosok Mahariah Sandre yang bergerak untuk membangun sistem pengolahan sampah di daerahnya di Pulau Pramuka. Ia mengambil ranah-ranah pekerjaan yang vital dan mampu membangun keberlangsungan lingkungan di Pulau Pramuka.

Posisi lain dari perempuan pesisir juga sudah seharusnya ditilik dalam kaitannya dengan penjagaan keanekaragaman hayati. Anita Dhewy dalam Jurnal Perempuan ke 95 mengenai Perempuan Nelayan juga menjelaskan bahwa analisa posisi perempuan dalam menjaga laut menjadi penting agar produktivitas dan keadilan terhadap perempuan juga terjamin.

Hal yang perlu dilakukan adalah melakukan advokasi mengenai kesetaraan gender, membentuk “champions” (yang dapat memajukan hak-hak perempuan nelayan), kerja sama dengan peneliti dan para ahli kebijakan.

Koalisi besar ini dibutuhkan antara LSM, pemerintah, peneliti dan akademisi. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa lensa gender dibutuhkan dalam memformulasi kebijakan perikanan yang menitikberatkan pada hak-hak perempuan.

Hal yang baik sudah ditunjukkan salah satunya di Pulau Pramuka, harapannya adalah posisi perempuan pesisir mampu meneropong isu keberlanjutan ekosistem laut termasuk dari ancaman sampah, sehingga tak ada lagi sampah-sampah plastik yang hanyut dan menyebabkan rusaknya ekosistem laut Indonesia.

tulisan ini telah terbit di lautsehat.id, diterbitkan ulang untuk kebutuhan non-profit.

Menyiasati Pandemi, Bertanggung Jawab Pada Produksi Sampah Pribadi

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam membangkitkan kesadaran masyarakat dalam manajemen sampah adalah pendekatan yang lebih personal. Di tengah pandemi ini, berbagai kegiatan memang cukup dibatasi. Hal ini juga berdampak pada minimnya donasi sampah yang masuk ke Get Plastic Learning Centre Bali, untuk menyikapi hal tersebut, tim Get Plastic yang bekerjasama dengan Yayasan Allianz Peduli mencoba mengubah metode edukasi dengan melakukan sosialisasi door to door yang sesuai dengan protokol kesehatan guna mengurangi kerumunan di masa pandemi ini.

Selama tahun 2020, tim Get Plastic telah menerima donasi sampah dari warga di sekitar Learning Centre yang berpusat di wilayah Sibangkaja, Badung, Bali. Donasi sampah tersebut yang kemudian diolah menjadi BBM sehingga permasalahan sampah plastik, khususnya di sekitar wilayah Learning Centre dapat terselesaikan. Di samping itu output berupa solar dan bensin yang dihasilkan dari pengolahan sampah plastik pun didistribusikan pada masyarakat sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Output berupa bahan bakar menjadi salah satu solusi untuk masyarakat mengganti bahan bakar dengan energi yang dihasilkan dari pengolahan sampah plastik.

Adapun data sampah plastik yang terolah pada periode Juli 2020-Februari 2021 adalah sebesar 580 kg. Pengumpulan sampah yang kami lakukan menggunakan berbagai metode, selain menerima donasi sampah dari sekitar Learning Centre kami pun berusaha melakukan penjemputan sampah dengan sosialisasi door to door yang sudah kami lakukan. Hal ini bertujuan untuk menjaring lebih banyak kepedulian dan minat masyarakat dalam mengelola dan mengolah sampah utamanya sampah plastik yang mereka hasilkan sehari-hari. Tim Get Plastic juga melakukan kerja-kerja lain seperti melakukan edukasi sebanyak 25 kali baik secara online ataupun offline dalam bentuk seminar, workshop, diskusi dan showcase. Kinerja yang adaptif sangat dibutuhkan dalam masa pandemi ini, untuk itu tim Get Plastic selalu mengupayakan kolaborasi dan metode edukasi yang variatif.

Dari Masyarakat Kembali Ke Masyarakat

Selama periode Juli 2020-Februari 2021, sebanyak 580 kg sampah plastik telah diolah menjadi BBM. Hal ini menjadi salah satu solusi dalam penanganan sampah plastik khususnya dalam skala komunitas. Semua sampah plastik yang dihasilkan warga di sekitar Learning Centre dikumpulkan dan diolah menjadi energi baru berupa bensin dan solar. Selama periode tersebut, tim GP pun mengakumulasikan hasil dari pengolahan sampah yang telah kami lakukan. Sebanyak 441 liter BBM telah dihasilkan dari sampah warga yang kami olah tersebut.

Hasil dari pengolahan sampah plastik berupa energi alternatif ini kami distribusikan kepada masyarakat sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Bahan bakar yang berasal dari pengolahan sampah plastik ini yang kemudian dapat membantu petani untuk menghidupkan beberapa mesin mereka seperti mesin traktor dan peralatan lainnya yang berbahan bakar solar. Perputaran energi inilah yang kami harapkan dapat terus terjadi, sebab selain masalah sampah plastik dapat teratasi, masyarakat pun dapat merasakan langsung manfaat dari sampah plastik yang mereka olah.

Hal ini juga menjadi salah satu bentuk tanggung jawab kami sebagai salah satu organisasi yang menjembatani warga dalam pengelolaan dan pengolahan sampah plastik, sebab kerapkali masyarakat tidak memiliki pilihan dalam manajemen sampah mereka. Seperti yang kita ketahui bersama, sistem tata kelola sampah kita selama ini lebih banyak mengandalkan sistem kumpul-angkut-buang yang mana sistem ini lebih banyak menimbulkan masalah baru karena sampah tercampur dan menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Untuk menghindari hal tersebut, kami sadar betul bahwa peran aktif masyarakat dalam menyelesaikan sampah di hulu menjadi salah satu metode preventif yang dapat diterapkan mulai dari skala terkecil yaitu rumah tangga.

Learning Centre Bali Sebagai Media Pembelajaran Bersama

Tepat setahun setelah Get Plastic memenangkan kompetisi sosial Inovation Fund dari Yayasan Allianz Indonesia, Learning Centre Bali resmi berdiri sebagai ruang diskusi dan belajar mengenai permasalahan lingkungan utamanya mengenai manajemen pengolahan sampah plastik. Di tahun 2020, salah satu ikon dari Learning Centre Bali yaitu Bamboo House resmi didirikan dan telah menjadi ruang tukar ilmu serta pengalaman dari berbagai kunjungan yang datang.

Berbagai kunjungan baik itu individu maupun komunitas kami terima sebagai salah satu visi kami untuk bekerja bersama-sama dalam proses penanganan sampah plastik di Indonesia. Sepanjang tahun 2020, meski dihadang pandemic, Learning Centre Bali tetap menerima kunjungan bahkan beberapa volunteer dari luar negeri.

Apa yang kami lakukan di sepanjang tahun 2020 merupakan mimpi besar kami untuk salah satunya membangkitkan kepedulian serta partisipasi masyarakat dalam kerja-kerja penjagaan lingkungan seperti pengelolaan dan pengolahan sampah plastik. Secara spesifik kami pun menerima sampah donasi dari warga di sekitar Br. Lateng, Sibangkaja, Badung karena ini merupakan bentuk tanggung jawab kami selama beberapa tahun mendirikan tempat workshop dan Learning Centre di daerah ini. Kedepannya kami pun berharap dapat mereplikasi apa yang telah kami lakukan ini di berbagai daerah di Bali dalam hal menyelesaikan permasalahan sampah plastik.

Di tahun 2021, kami kembali bergerak dengan melakukan beberapa sosialisasi di beberapa toko/kios yang tersebar di sekitar daerah Learning Centre kami. Sosialisasi yang kami lakukan lebih terkait pada produksi sampah yang banyak dihasilkan oleh toko dan warung, yang mana sampah tersebut mayoritas dipenuhi oleh sampah plastik. Salah satu fokus utama kami dalam sosialisasi ini adalah membantu memberikan solusi terkait pengolahan sampah plastik menjadi BBM, sebab beberapa warga masih melakukan pembakaran sampah karena tidak mengetahui metode apa yang harus digunakan dalam mengelola dan mengolah sampahnya.