Sampah dan Realita: Catatan Pengelolaan Sampah dari Bali dan Alternatif Pendampingan Sampah

Permasalahan sampah di Bali bukan cerita baru, hingga hari ini penanganan sampah masih menjadi isu yang terus berulang. Salah satu realitas paling jelas adalah kondisi buruk penanganan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Dalam beberapa tahun terakhir, wacana penutupan TPA ini bolak-balik mencuat akibat kelebihan kapasitas, pencemaran lingkungan, hingga tekanan dari masyarakat dan aktivis. Namun di sisi lain, ketergantungan Bali terhadap TPA Suwung masih sangat tinggi. Sampah dari rumah tangga, pariwisata, dan aktivitas ekonomi terus mengalir, sementara praktik pengurangan dan pemilahan di sumber belum berjalan konsisten. Kondisi ini berulang kali disorot dalam berbagai laporan dan pemberitaan, yang menunjukkan bahwa sebagian besar sampah yang masuk ke TPA Suwung masih tercampur meskipun kebijakan pemilahan telah lama dicanangkan. Data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bali, serta liputan media nasional dan lokal seperti Kompas, Mongabay Indonesia, dan Bali Tribune pada periode 2024–2025, mencatat bahwa sampah rumah tangga masih menjadi kontributor utama, disusul oleh sampah dari sektor pariwisata; hotel, restoran, dan kawasan wisata yang banyak menghasilkan plastik kemasan, sisa makanan, dan residu sekali pakai. Berbagai laporan organisasi lingkungan juga menyoroti bahwa pemilahan di tingkat desa dan permukiman sering terhenti pada tahap penyediaan fasilitas, tanpa didukung sistem pengangkutan dan pengolahan yang konsisten.

Di tingkat kebijakan, Bali sebenarnya tidak kekurangan regulasi. Larangan botol plastik sekali pakai, program pemilahan sampah dari sumber, hingga dorongan pengelolaan berbasis desa adat sudah banyak dicanangkan. Namun di lapangan, jurang antara kebijakan dan praktik masih terasa lebar. Pemilahan sering kali berhenti sebagai imbauan, bukan kebiasaan. Sosialisasi dilakukan, tetapi tidak selalu disertai pendampingan yang memastikan pemahaman bersama.

Pengalaman ini juga saya rasakan secara personal di lingkungan kos tempat saya tinggal, di Banjar Gulingan Tengah, Mengwi. Sejak akhir tahun lalu, pengelola sampah dari TPS3R mulai menerapkan sistem pemilahan di kos dengan menyediakan empat kantong sampah dan dua ember untuk jenis sampah yang berbeda. Kos ini terdiri dari enam bilik: tiga diantaranya dihuni keluarga dengan anak kecil, sementara dua lainnya dihuni oleh penghuni yang relatif sering berganti.

Pada awalnya, antusiasme cukup tinggi, warga kos berusaha memilah sampah mereka. Namun seiring waktu, muncul kebingungan. Sosialisasi hanya dilakukan lewat poster, tanpa diskusi bersama atau penjelasan langsung. Akibatnya, pemilahan seringkali keliru. Beberapa kali, petugas pengangkut sampah mengoreksi isi kantong. Menurut salah satu penghuni, petugas sendiri tidak selalu konsisten, styrofoam kadang diminta masuk ke kantong khusus plastik, kadang ke anorganik. Hal serupa terjadi pada tisu, yang posisinya abu-abu antara organik, anorganik, atau  pada sampah B3 (bahan berbahaya beracun) rumah tangga.

Masalah berikutnya justru paling mematahkan semangat: sampah yang sudah dipilah dengan susah payah kembali dicampur saat proses pengangkutan. Di titik ini, niat baik warga perlahan berubah menjadi kekecewaan. Pemilahan terasa sia-sia, bukan karena warga tidak mau, tetapi karena sistem di sekitarnya belum siap menopang kebiasaan baru ini.

Pengalaman kecil di kos ini mencerminkan persoalan yang lebih besar di Bali. Bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar soal menyediakan tempat sampah berbeda warna atau memasang poster edukasi. Ia membutuhkan kesepahaman, konsistensi, dan sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

Di sinilah Get Plastic hadir dengan program kemitraan yang dirancang untuk menjawab celah ini. Get Plastic melakukan pendekatan berbasis pendampingan. Pendampingan dalam konteks pengelolaan sampah berarti tidak berhenti pada pemberian alat, teknologi, atau aturan, tetapi menemani proses perubahan itu sendiri. Pendampingan memastikan bahwa setiap pihak yang terlibat; warga, pengelola, hingga operator memiliki pemahaman yang sama, ruang untuk bertanya, dan kesempatan untuk belajar dari praktik sehari-hari. Dengan pendampingan, pengelolaan sampah diperlakukan sebagai proses sosial dan teknis yang berjalan bersamaan, bukan sekadar proyek sekali jalan. 

Langkah awal dari pendampingan ini adalah asesmen. Asesmen dilakukan untuk membaca kondisi nyata di lapangan sebelum solusi ditentukan. Dalam proses ini, tim Get Plastic menggali informasi tentang bagaimana sampah saat ini dikelola, jenis dan volume sampah yang dihasilkan, kebiasaan masyarakat atau pekerja, serta dinamika sosial yang mempengaruhi perilaku pengelolaan sampah. Asesmen juga melihat keterbatasan yang ada, baik dari sisi ruang, sumber daya manusia, maupun kesiapan organisasi.

Hasil asesmen inilah yang menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan sampah. Rekomendasi tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan konteks masing-masing mitra. Di dalamnya mencakup strategi pendekatan kepada warga atau pekerja, skema pemilahan dan alur pengelolaan sampah, hingga perhitungan kapasitas serta spesifikasi mesin yang benar-benar dibutuhkan. Dengan cara ini, solusi yang dirancang tidak berdiri di atas asumsi, melainkan berangkat dari realitas sehari-hari. Setelah disepakati, proses pendampingan dilakukan secara menyeluruh: mulai dari pendampingan pemilahan di tingkat masyarakat, pembentukan dan penguatan tim waste management, hingga pelatihan operator lokal untuk mengoperasikan mesin pirolisis.

Dalam proses pendampingan tersebut, tim Get Plastic juga kerap berhadapan dengan tantangan lain, khususnya saat bekerja sama dengan perusahaan. Tidak sedikit mitra yang datang dengan orientasi kuat pada efisiensi biaya dan potensi pendapatan. Pengelolaan sampah dilihat sebagai cara menekan pengeluaran atau bahkan menghasilkan energi dan keuntungan tambahan.

Pendekatan ini tidak sepenuhnya salah. Pengelolaan sampah yang baik memang berdampak pada pengurangan biaya jangka panjang, mulai dari pengangkutan, tipping fee, hingga risiko lingkungan. Lingkungan yang lebih bersih juga meningkatkan kesehatan dan kenyamanan. Namun ketika fokus terlalu berat pada angka pendapatan, aspek utama justru sering terabaikan: kesiapan sistem dan manusia yang menjalankannya.

Di titik inilah diskusi tentang waste to energy sering muncul. Teknologi ini kerap diposisikan sebagai solusi besar, seolah-olah sampah bisa langsung diubah menjadi energi dan masalah selesai. Padahal, waste to energy bukan jalan pintas dan tidak cocok untuk semua kondisi. Teknologi ini hanya masuk akal jika ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang utuh, khususnya untuk menangani sampah plastik low value yang memang sulit didaur ulang.

Dalam kerangka ini, energi dari waste to energy atau energi yang dihasilkan dari pengolahan sampah sebaiknya dipahami sebagai hasil dari sistem yang berjalan baik. Tanpa pemilahan yang konsisten, tanpa upaya pengurangan sampah di sumber, dan tanpa tim pengelola yang memahami alur kerjanya, teknologi waste to energy tidak hanya gagal mencapai target, tetapi juga berpotensi menambah biaya operasional dan kompleksitas pengelolaan.

Pengelolaan sampah yang berdampak memang jarang memberi hasil instan. Namun manfaatnya nyata dan luas: lingkungan yang lebih bersih, sistem yang lebih stabil, serta biaya jangka panjang yang lebih terkendali. Bali tidak kekurangan niat baik maupun teknologi. Tantangannya adalah membangun sistem yang berpihak pada proses: pelan, kontekstual, dan melibatkan manusia di dalamnya.

Catatan sumber:

Rumekso Bhumi Festival di Bali

Indonesia terkenal dengan kekayaan alam dan budaya masyarakat lokalnya, salah satu budaya yang menarik dan mengakar bagi masyarakat Indonesia adalah kehadiran pasar tradisional yang bisa mengumpulkan pedagang dan pembeli dari berbagai kalangan. Rumekso Bhumi Festival berasal dari bahasa sanskerta dimana Rumekso berarti menjaga dan Bhumi berarti alam dunia, festival ini di inisiasi dari ide pasar tradisional di Indonesia yang masih menggunakan bahan dasar alami mulai dari pembuatan hingga proses pengemasannya. Rumekso Bhumi hadir pertama kali di Desa Cluring, Banyuwangi dengan konsep minimalis sampah plastik dan berfokus pada penggunaan kemasan dari daun alami.

Pada tahun 2023, Rumekso Bhumi hadir dengan nuansa alam di Alas Arum Heritage, Desa Adat Silungan, Lodtunduh, Ubud. Festival ini dilaksanakan selama dua hari, mulai dari tanggal 17-18 Juni di mana kebutuhan energi selama festival akan disuplai oleh energi dari pengolahan sampah plastik menjadi BBM oleh Yayasan Get Plastic Indonesia. Sebanyak kurang lebih 300 kg sampah plastik akan diolah menjadi BBM berbentuk solar untuk keperluan generator saat festival. Seluruh kebutuhan festival akan di organized oleh Get Plastic dan Antida Music Production.

Festival Rumekso Bhumi mengedepankan konsep “Menjaga Alam, Selaras Budaya” di mana untuk menjaga alam lokal di suatu masyarakat, kita harus menyelaraskannya dengan budaya lokal yang dijunjung masyarakat tersebut. Desa Silungan dipilih karena keasrian hutan desanya serta terdapat panganan khas berupa Tape Silungan yang masih dijaga oleh masyarakat Silungan, Ubud sampai saat ini. Konsep festival ini akan mengajak masyarakat lokal secara lebih dekat untuk menjaga lingkungan selaras dengan alam. 

Selama dua hari, pengunjung akan disuguhkan dengan banyak jajanan dan makanan tradisional dari para penjual yang berasal dari Bali. Festival juga akan dimeriahkan dengan workshop pengolahan sampah plastik menjadi BBM, workshop organik, pertunjukan tradisional serta pertunjukan musik dari artis yang tergabung dalam Rumekso Bhumi Festival.

Hal penting yang juga akan di highlight dari festival ini adalah penggunaan energi dari BBM sampah plastik dan mata uang yang berasal dari Kepeng Residue sisa pengolahan sampah plastik. Harapannya, melalui festival ini kesadaran masyarakat akan permasalahan sampah, terutama sampah plastik dapat terbuka sehingga terbentuk inovasi untuk mengelola dan mengolah sampah plastik dengan baik.

Get Plastic Goes to Raja Ampat

Kegiatan pelatihan Get Plastic ini, hadir atas kerjasama program bersama komunitas Orang Kawe di Teluk Alyui, Raja Ampat, Papua. Kegiatan ini berlangsung selama 7 hari yaitu dari tanggal 18 Agustus 2023 - 24 Agustus 2023. Tim Get Plastic yang terlibat dalam kegiatan selama pelatihan di Alyui, Papua adalah Cresentiana Grace Endo, Didit Galih Sumono, Samiun Muttaqin, dan Rocky Ferico. 

Kegiatan pelatihan ini meliputi pengoperasian mesin pirolisis GPM 14, pelatihan pemilahan sampah plastik, pelatihan pemanfaatan residu sisa pengolahan sampah plastik, dan pelatihan perawatan mesin pirolisis GPM 14. Pelatihan intensif selama 7 hari diikuti oleh 6 orang yang terdiri dari petugas penanganan sampah (sebagai pemilah sampah), tim bengkel dan kelistrikan (sebagai operator mesin) dari Alyui.

Pelatihan in juga sekaligus mengedukasi anak-anak SD Selpele, dan ibu-ibu pengrajin di Desa Selpele yang berlokasi dekat dengan site pyrolysis. Dari pelatihan dan edukasi ini, diharapkan semua peserta yang terlibat dapat bertanggung jawab dalam mengolah sampah plastik yang dihasilkan setiap harinya. Serta dapat menggunakan hasil pengolahan dari sampah plastik untuk kebutuhan BBM disana.

Kondisi Awal Lokasi Penempatan Mesin

Penempatan mesin pirolisis GPM 14 kali ini bekerjasama dengan tim penangkaran mutiara yang sadar akan kebersihan lingkungan di lokasi, mereka memiliki petugas khusus untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menangani masalah sampah. Terlihat juga mereka memiliki tempat sampah berdasarkan jenis sampah di setiap sudut tempat yang dibagi menjadi sampah plastik, sampah kertas, sampah botol kaca, dan sampah botol plastik. Dominasi sampah yang ada disana adalah sampah plastik, sampah tali dan jaring-jaring.

Untuk mengolah sampah-sampah ini mereka memiliki mesin penghancur kaca untuk sampah botol, mesin pencacah dan mesin press untuk sampah plastik jenis HDPE. Sedangkan untuk pengolahan sampah organik sisa makanan dan dapur mereka menyimpannya dalam tempat khusus dan setiap harinya mereka berlayar ke tengah laut untuk memberikan sampah organik ini pada ikan-ikan di laut. Untuk sampah-sampah yang tidak bisa terolah selama ini akan dibakar di tempat pembakaran.

Tim lokal disana juga sudah mulai memisahkan sampah plastik berdasarkan bentuknya dan memisahkan sampah tali dan sampah jaring-jaring. Namun, tim lokal belum memahami pemilahan sampah plastik berdasarkan jenisnya. Kondisi sampah yang diperoleh dari lingkungan kerja terkadang masih basah dan bercampur dengan organik.

Ketika Sampah Plastik Menghantui Laut dan Wilayah Pesisir Indonesia

Sampah plastik terlihat mengapung di sepanjang pesisir pantai dekat dermaga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Sejauh mata memandang, di tengah birunya laut Pulau Pramuka masih banyak sampah-sampah yang mampir ke pesisir pantainya. Selepas turun dari kapal, saya memperhatikan bagaimana sampah-sampah ini bisa menyapu lautan dan kembali lagi ke darat.

Menurut beberapa masyarakat lokal, pemandangan itu adalah hal biasa, bisa jadi juga sampah plastik itu merupakan sampah kiriman dari Jakarta akibat angin musim barat. Namun tak menutup kemungkinan pula, ada beberapa masyarakat yang masih membuang sampah rumah tangga mereka ke laut, seringkali tak ada pilihan bagi mereka.

“Kalau gak dibuang bau mbak, biasanya kalau gak diambil petugas, ya dibuang ke laut” terang salah satu pedagang di Pulau Pramuka, selepas kegiatan volunteer yang saya lakukan untuk mendata rumah tangga yang memilah sampah di Pulau Pramuka.

Pada tahun 2015, dunia digemparkan dengan hasil riset dari Jenna Jambeck yang menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah China.

Riset yang fenomenal ini kemudian membuat berbagai gerakan pengelolaan dan pengolahan sampah laut mulai muncul. Salah satunya adalah Pulau Pramuka, pada tahun 2020 saya berkesempatan melakukan kegiatan volunteer bersama Yayasan Get Plastic Indonesia, sebuah organisasi yang berfokus pada pengelolaan dan pengolahan sampah plastik menjadi BBM melalui proses pirolisis.

Pulau Pramuka menjadi salah satu wilayah yang diintervensi untuk piloting mesin pirolisis ini, bekerjasama dengan Yayasan Rumah Literasi Hijau, program ini menjadi salah satu jawaban untuk menyelesaikan sampah plastik yang ada di wilayah pesisir, terutama sampah-sampah plastik tak bernilai yang tidak diterima oleh pengepul atau bank sampah.

Sampah plastik tentu menjadi momok menakutkan bagi kita semua, terlebih wilayah pesisir yang secara akses jauh lebih sulit untuk mengakses sarana-sarana pengelolaan dan pengolahan sampah. Bahkan, untuk kasus Pulau Pramuka, mereka rutin mengirimkan sampah dari pulau ke TPA Bantar Gebang.

Inovasi yang mampu menjawab tantangan ini diperlukan sehingga permasalahan sampah terutama sampah plastik dapat diselesaikan secara langsung di wilayah pulau.

Pulau Pramuka, Bertahan dari Permasalahan Sampah Plastik
Sampah plastik bukan menjadi permasalahan baru di Indonesia, salah kelola dan sulitnya material plastik untuk terurai menjadi penyebab utama bahayanya sampah plastik bagi alam. Terlebih bagaimana sampah plastik ini berpengaruh di wilayah pesisir, dimana akses sarana TPA sangat minim, bahkan belum ada sistem pengolahan yang dapat menjawab tantangan ini.

Hal ini juga dikuatkan dengan penelitian yang diterbitkan Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention On Biological Diversity) pada 2016, dimana dijelaskan bahwa sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies laut yang ada.

Sampah plastik menjadi salah satu yang bahaya, dimana ia menyebabkan terancamnya biota laut karena karakteristiknya yang sulit terurai secara alami. Hal yang lebih menyeramkan dijelaskan BBC (2021) dimana paus di Wakatobi memakan sebanyak 115 plastik dan sandal jepit, ancaman yang serius bagi biota laut kita hari ini.

Maraknya kasus-kasus kerusakan biota laut akibat sampah plastik, membuat Yayasan Get Plastic Indonesia jengah untuk membangun sistem pengolahan sampah plastik melalui pirolisis secara remote dengan mesin yang low-tech solusi ini dapat mengolah sampah plastik menjadi BBM sejenis solar dan bensin, selain itu mesin ini juga menghasilkan gas propilen dimana semua keluaran dari mesin ini dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional nelayan seperti bahan bakar kapal, gas propilen untuk menyalakan genset dan berbagai mesin lainnya yang disuplai oleh solar atau bensin.

Keberhasilan Pulau Pramuka dalam pilot pengolahan sampah plastik menjadi BBM ini juga berkat kerja keras dari Yayasan Rumah Literasi Hijau yang membuat program dapat berjalan dengan berkelanjutan.

Selain mengolah sampah dari tiap rumah tangga di Pulau Pramuka, Yayasan Rumah Literasi Hijau yang dikepalai oleh Ibu Mahariah Sandre juga menginisiasi program pengolahan sampah plastik untuk nelayan, dimana program ini dikenal dengan barter BBM berupa solar, dengan mekanisme nelayan mengumpulkan 3 kg sampah plastiknya dari laut untuk ditukarkan dengan 1 liter BBM hasil pirolisis.

Skema pengolahan sampah plastik ini dapat dijadikan salah satu opsi untuk mengurangi sampah plastik yang terbuang ke laut yang membahayakan biota laut.

Proses ini juga dapat dijadikan salah satu strategi bertahan dari kelangkaan solar di kemudian hari, jika pilot ini dapat dikembangkan lebih lanjut makan masyarakat pesisir akan memiliki nilai tawar terhadap kebutuhan energi di pulaunya sendiri. Selain mampu menjawab tantangan pengelolaan dan pengolahan sampah plastiknya, mereka juga mampu sintas dalam keadaan sulit akan akses energi.

Mengelola Sampah Plastik Menjadi Energi
Sepanjang tahun 2020-2021, pendampingan intensif dilakukan oleh Yayasan Get Plastic Indonesia untuk melihat bagaimana solusi pirolisis ini dapat menjangkau kebutuhan akan akses pengolahan sampah plastik di pesisir.

Program ini juga menjadi rujukan bagaimana cadangan energi dapat diupayakan apabila masyarakat mampu menggerakkan usaha kolektif dalam pengolahan sampah plastik ini.

Menurut catatan dari Yayasan Get Plastic Indonesia, sebanyak 279,9 kg sampah plastik diolah selama 2 bulan menjadi 184,31 liter BBM sejenis solar. Hasil keluaran dari metode ini menjadi salah satu catatan untuk kita dapat mengelola sampah plastik yang ada di pesisir agar tidak masuk dan mencemari ekosistem bawah laut kita lagi.

Seperti yang dijelaskan KLHK (2021) bahwa dalam 15 tahun terakhir Indonesia menghadapi tantangan besar dalam produksi sampah plastik karena jumlah dan fraksi sampah plastik terus meningkat yang, dimana sebagian besar dihasilkan dari barang-barang plastik sekali pakai seperti kantong plastik, kemasan plastik fleksibel (sachet dan pouch), sedotan plastik, dan wadah busa plastik (styrofoam).

Plastik sekali pakai ini merupakan salah satu jenis yang sering ditemui di Pulau Pramuka, melalui metode pengelolaan sampah plastik menjadi energi ini, banyak harapan terucap agar perairan Indonesia dapat bersih dari sampah plastik dan masyarakat pesisirnya dapat menjadi pioner dalam penyelesaian masalah ini.

Posisi Perempuan dan Ekosistem Pesisir
Peran masyarakat pesisir dalam penjagaan ekosistem bawah laut menjadi salah satu yang utama, namun dimanakah posisi perempuan pesisir dalam keberlangsungan ekosistemnya?

Nyatanya, peran perempuan menjadi sangat krusial, entah apapun pekerjaannya dalam ekosistem kelautan. Hal ini dapat dilihat dari sosok Mahariah Sandre yang bergerak untuk membangun sistem pengolahan sampah di daerahnya di Pulau Pramuka. Ia mengambil ranah-ranah pekerjaan yang vital dan mampu membangun keberlangsungan lingkungan di Pulau Pramuka.

Posisi lain dari perempuan pesisir juga sudah seharusnya ditilik dalam kaitannya dengan penjagaan keanekaragaman hayati. Anita Dhewy dalam Jurnal Perempuan ke 95 mengenai Perempuan Nelayan juga menjelaskan bahwa analisa posisi perempuan dalam menjaga laut menjadi penting agar produktivitas dan keadilan terhadap perempuan juga terjamin.

Hal yang perlu dilakukan adalah melakukan advokasi mengenai kesetaraan gender, membentuk “champions” (yang dapat memajukan hak-hak perempuan nelayan), kerja sama dengan peneliti dan para ahli kebijakan.

Koalisi besar ini dibutuhkan antara LSM, pemerintah, peneliti dan akademisi. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa lensa gender dibutuhkan dalam memformulasi kebijakan perikanan yang menitikberatkan pada hak-hak perempuan.

Hal yang baik sudah ditunjukkan salah satunya di Pulau Pramuka, harapannya adalah posisi perempuan pesisir mampu meneropong isu keberlanjutan ekosistem laut termasuk dari ancaman sampah, sehingga tak ada lagi sampah-sampah plastik yang hanyut dan menyebabkan rusaknya ekosistem laut Indonesia.

tulisan ini telah terbit di lautsehat.id, diterbitkan ulang untuk kebutuhan non-profit.

HPSN 2023, Get Plastic Bersama Anak-Anak TPA Suwung Memperingati Ledakan TPA Leuwigajah

Hari Peduli Sampah Nasional diperingati setiap tanggal 21 Februari setiap tahunnya, peringatan ini merupakan salah satu refleksi yang dilakukan atas peristiwa bencana kemanusiaan di tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah, Cireundeu, Jawa Barat yang terjadi pada 21 Februari 2005. Ledakan gas metana pada TPA ini yang kemudian menyebabkan TPA meledak dan longsor hingga menimbun desa yang ada di bawah TPA Leuwigajah. Bencana ini menjadi tamparan keras sebab ratusan nyawa harus menjadi korban dalam peristiwa ini. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat masih ada sebanyak 35,46% tempat pembuangan akhir (TPA) yang dikelola secara open dumping hingga Mei 2022. Padahal, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pemerintah telah memberikan toleransi waktu 2 tahun untuk menyesuaikan pengelolaan sampah dari open dumping menjadi sanitary landfill juga agar pengelolaan sampah sesuai SOP yang telah ditetapkan. Namun, selama 14 tahun UU itu berlaku, TPA open dumping masih banyak ditemui di lingkungan masyarakat. 

Bahayanya TPA

Praktik ini yang menjadi salah satu penyebab ledakan dahsyat pada TPA. Bencana kemanusiaan ini akhirnya menjadi salah satu gerakan yang diinisiasi Get Plastic sejak tahun 2020 untuk melaksanakan refleksi dan peringatan bahwa pengelolaan dan pengolahan sampah yang tidak baik akan menyebabkan bencana yang tidak terhindarkan. Get Plastic sebagai sebuah organisasi yang fokus pada permasalahan sampah plastik menyikapi HPSN sebagai titik balik kita merefleksikan apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk generasi Indonesia kedepannya.

Setiap tahunnya Get Plastic bergerak dan melaksanakan peringatan HPSN dengan tema yang berbeda-beda. Di tahun 2023 ini Get Plastic memfokuskan peringatan HPSN di TPA Suwung Denpasar, salah satu TPA terbesar yang ada di Bali dimana terdapat tiga kabupaten yang membuang sampah di tiap wilayahnya ke TPA Suwung ini. Sampai saat ini TPA Suwung tidak menerima sampah dari Kabupaten Badung dan Gianyar lagi, ditambah saat ini ada rencana bahwa TPA Suwung akan berhenti menerima sampah di bulan Januari 2023. 

Get Plastic menginisiasi peringatan HPSN dengan tema ‘’Generasi Penerus Bangsa Yang Peduli Sampah” dimana kegiatan ini akan menyasar anak-anak di sekitar TPA Suwung pada tanggal 21 Februari 2023 bertempat di Suwung Community Center Bali Life Foundation – TPA Suwung. Kegiatan ini akan diikuti oleh anak-anak Suwung Community Center (SCC) dengan rentang usia 9-13 tahun. Kegiatan akan difokuskan pada kegiatan edukasi berbasis permainan agar anak-anak SCC memahami dan sadar akan pentingnya menjaga alam mereka dari sampah terutama sampah plastik. Melalui kegiatan ini kami berharap dapat menumbuhkan kesadaran akan bahaya sampah plastik bagi lingkungan kita terutama di sekitar TPA.

"Get The Fest Tour & Music Festival" Energi dari BBM Sampah Plastik

Kegiatan Tour dan Festival Musik Get The Fest merupakan kegiatan yang disuplai dari bahan bakar sampah plastik, kegiatan ini dapat berjalan karena dukungan dari Pertamina sebagai sponsor rangkaian Tour dan Festival, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali yang mendukung terselenggaranya festival di Bali, didukung oleh Antida Musik sebagai organizer festival dengan lokasi festival di Njana Tilem Museum yang kental akan sejarah dan kebudayaan Balinya. 

Rangkaian Get The Fest Tour telah berakhir, tour ini memakan waktu selama 4 hari dengan total 3 kota yang sudah disinggahi oleh tim Get The Fest yaitu Kota Bogor, Madiun dan Denpasar. Adapun kebutuhan solar yang diperoleh dari mesin pirolisis ini telah mampu mengantarkan rombongan ke destinasi tujuan di Pulau Dewata, Bali.

Titik akhir perjalanan ramah lingkungan ini akan dilaksanakan di Bali dengan mengusung konsep Festival Musik dari Energi Sampah Plastik. Selama 24 jam festival ini akan dialiri solar dari hasil pengolahan sampah plastik. Total sekitar 420 liter solar digunakan untuk kegiatan puncak festival ini.

Puncak acara Get The Fest dibuka mulai dari jam 10.00 - 23.00 WITA dengan berbagai macam kegiatan di dalamnya seperti workshop, talkshow, community gathering dan tentunya konser musik dari berbagai musisi mulai dari Bali-Jakarta. Musisi dari Get The Fest pun akan turut menghadiri konferensi pers yang diselenggarakan di The Ambengan Tenten, Denpasar untuk menceritakan konsep dari Festival Musik dengan energi dari sampah plastik ini.

Festival ini akan dimeriahkan oleh berbagai macam musisi, lintas usia, genre dan wilayah. Get The Fest akan menampilkan Navicula, Jason Ranti, Iksan Skuter, Oppie Andaresta, Nugie, Cozy Republik, Ipank Hore-Hore, Made Mawut, Mad Madmen, Rhythm Rebels, Koesbilindo dan Taman Sawangan Ukulele.

Kampanye ini adalah milik masyarakat, Get The Fest menjadi salah satu media untuk menggabungkan metode pengelolaan dan pengolahan sampah plastik di Indonesia. Selanjutnya publik yang juga akan menentukan keberlanjutan masa depan penanganan sampah plastik kita. 

Dukungan publik sangat diharapkan dalam kegiatan ini salah satunya dengan berpartisipasi dan memeriahkan festival musik dengan energi sampah plastik di Bali, tiket tersedia pada Loket.com. Untuk informasi selengkapnya dapat mengikuti postingan @getplastic_id dan @getthefest pada media sosial Instagram, Twitter dan Facebook.

Get The Fest Tour: Test Drive Bahan Bakar dari Sampah Plastik

Rangkaian Get The Fest kini tinggal beberapa minggu lagi, pembukaan Tour dan Konser musik pertama yang menggunakan energi dari BBM sampah plastik ini akan dimulai dari tanggal 9 Oktober 2022. Get The Fest Tour akan dibuka perdana, dimana Pemerintah Kota Bogor akan menjadi tuan rumah pembukaan Get The Fest. Balai Kota Bogor dipilih sebagai tempat seremonial pembukaan dan pelepasan rombongan Tour Get The Fest. 

Serangkaian kegiatan akan dilakukan seperti uji BBM dari sampah plastik oleh para undangan seperti Presiden RI, Kementerian lembaga, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Bogor dan Pertamina sebagai sponsor dalam kegiatan ini. 

Dukungan lain juga diberikan oleh bank bjb untuk keberlanjutan pengolahan sampah plastik dengan mesin pirolisis di Kota Bogor. Momentum ini dimanfaatkan untuk mengkampanyekan pengolahan sampah pada masyarakat luas, salah satunya dengan aktivasi karaoke menggunakan BBM sampah plastik bertajuk Plastik Bersuara oleh musisi yang mendukung gerakan ini.

Perjalanan dari Bogor - Bali sejauh 1200 km ini ditempuh oleh rombongan Tour dengan transportasi Isuzu Chevrolet Luv dan Bus Mini ukuran ¾ yang akan diisi BBM sampah plastik. 

Total kebutuhan solar untuk tour ini sekitar 500 liter untuk dua kendaraan, stok solar ini diperoleh dari proses pengolahan sampah plastik menjadi BBM. Kebutuhan energi nantinya akan diperoleh secara langsung dari mesin yang dibawa dalam mobil Chevrolet. Saat ini tim Get The Fest telah mengolah sebanyak 700 kg sampah plastik untuk memenuhi kebutuhan solar pada saat Tour dan Festival nantinya.

Tagline dari kegiatan ini adalah Less Plastic More Energy jadi sebisa mungkin kami memanfaatkan sumber energi dari sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik. Harapannya melalui kegiatan ini bisa menjadi media kampanye yang efektif bagi masyarakat terutama terkait pengelolaan dan pengolahan sampah plastik di wilayah hulu.

Dukungan publik sangat diharapkan dalam kegiatan ini salah satunya dengan berpartisipasi pada kegiatan puncak festival di Bali, masyarakat dapat membeli tiket nya pada Loket.com. Untuk informasi selengkapnya dapat mengikuti postingan @getplastic_id dan @getthefest pada media sosial Instagram, Twitter dan Facebook.

Get The Fest 2022, Sebuah Rangkaian Tur dan Konser Musik Berbahan Bakar Minyak Hasil Olahan Sampah Plastik

Krisis iklim menjadi salah satu tantangan global penduduk dunia saat ini dan kedepannya, menipisnya sumber energi dan meningkatnya produksi sampah plastik menjadi ancaman serius. Dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), isu lingkungan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam kesepakatan pembangunan berkelanjutan tersebut. Di tahun 2021 capaian SDGs Indonesia masih belum begitu menggembirakan karena menempati peringkat 82 dari 163 negara, kemudian indikator SDGs 13 yaitu Climate Action juga menunjukkan capaian yang belum maksimal (Sustainable Development Report, 2021). Sementara, saat ini Indonesia juga sedang mempersiapkan agenda Presidensi G-20 dengan salah satu isu prioritasnya adalah transisi energi berkelanjutan. Sebagai negara penyelenggara tentunya ini menjadi ajang pembuktian bagi Indonesia untuk merealisasikan penerapan transisi energi berkelanjutan. Pemerintah mengharapkan semua pihak dapat turut andil dalam mendukung komitmen ini.

Sejak tujuh tahun yang lalu, Yayasan Get Plastic Indonesia ikut berperan membangun tata kelola sampah yang menjadi akar permasalahan sampah plastik. Get Plastic bergerak dengan menginovasi mesin pirolisis untuk mengubah sampah plastik menjadi BBM. Kemudian hingga tahun 2022 Get Plastic telah mendampingi 28 mitra yang tersebar di seluruh Indonesia agar dapat mengolah sampah plastik dari sumbernya. Salah satu founder kami Dimas Bagus Wijanarko menuturkan "Kurangnya kepedulian masyarakat mengenai isu lingkungan merupakan salah satu masalah besar bagi Indonesia. Kami mengemas kampanye dengan pendekatan khusus untuk menarik perhatian masyarakat dan membuktikannya melalui Get The Fest 2022 bahwa pengelolaan dan pengolahan sampah plastik secara tepat dapat menghasilkan nilai seperti energi alternatif untuk transportasi bahkan konser musik”.

Program Get The Fest akan ditargetkan mengolah 2 ton sampah plastik menjadi bahan bakar minyak sebagai sumber energi bagi kebutuhan transportasi dan kelistrikan selama rangkaian tur dan festival musik. Puncak acara berupa festival musik akan dilaksanakan di Museum Njana Tilem, Bali pada tanggal 16 Oktober 2022 diorganisir oleh Antida Musik Indonesia. Rangkaian tur dan konser musik yang disponsori oleh PT Pertamina (Persero) ini akan dimulai pada tanggal 9 Oktober 2022 di Bogor dengan seremoni berupa aktivitas test drive menggunakan bahan bakar hasil olahan sampah plastik. Kami akan mengundang Bapak Presiden RI, Joko Widodo, dan Bapak Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, serta beberapa tokoh pemerintahan lainnya pada acara pembukaan Get The Fest 2022 untuk turut merasakan manfaat dari pengolahan sampah plastik low-value ini. Selanjutnya pada titik transit tur di Kota Madiun akan dilakukan aktivitas clean-up serta pengolahan sampah plastik untuk mendukung kebutuhan energi bagi konser musik yang akan menjadi puncak dari rangkaian acara ini.

Kami berharap Get The Fest 2022 dapat menjadi prestasi bagi Indonesia, sebuah harapan besar dari Get Plastic untuk memperlihatkan best practises dalam merespon permasalahan sampah plastik di Indonesia. Gerakan ini juga dapat meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat serta menjadi solusi atas produksi sampah plastik yang terus meningkat diiringi dengan sumber energi fosil yang kian menipis, di sisi lain gebrakan ini juga menjadi jawaban untuk mencapai target SDGs 2030.

Melalui pendekatan less plastic, more energy kami ingin mengajak masyarakat untuk bijak dalam berplastik. Respon masyarakat pun positif, bahkan Bapak Erick Thohir sempat berkunjung ke pra-acara Get The Fest 2022 yang kami adakan di Depok pada tanggal 5 Juni 2022. Untuk menarik partisipasi masyarakat pada acara ini, kami menempatkan drop-box donasi sampah plastik di daerah Denpasar-Ubud, Bali agar donasi tersebut dapat diolah menjadi sumber energi bagi perhelatan Get The Fest 2022. Kegiatan pra-acara berupa aktivasi karaoke juga dilakukan untuk mensukseskan acara ini. Mesin karaoke yang dimodifikasi dengan bentuk tempat sampah dan dinyalakan dengan sumber energi dari sampah plastik  ini sukses menarik perhatian masyarakat pada acara yang diadakan di Pasar Santa, 18 Juni 2022 lalu. Dukungan dari beberapa teman-teman musisi juga sangat membantu mensukseskan acara ini, ada Oppie Andaresta, Nugie, Denny Frust, Cozy Republic, dan Ipank Hore-Hore yang sangat mendukung gerakan ini. Tentunya kami juga sangat berharap mendapat dukungan dari masyarakat agar gerakan ini dapat terdengar hingga ke mancanegara dan dapat menjadi prestasi bagi masyarakat Indonesia. Informasi mengenai gerakan ini juga dapat dilihat melalui akun @getplastic_id dan @getthefest pada media sosial Instagram.

Get Plastic Goes to Jakarta

Road to Get The Fest

Pada periode Juni, tim Get Plastic memfokuskan gerakan dan perluasan jaringan di wilayah Jakarta. Salah satu agenda di awal bulan Juni adalah persiapan program Road to Get The Fest di Kampus Al-karimiyah Depok. Seluruh kegiatan showcase mesin dan konser musik dilaksanakan bekerjasama dengan komunitas Depok. Kegiatan ini juga disuplai penuh dengan BBM dari sampah plastik yang dialiri langsung ke genset. Program Road to Get The Fest ini juga menjadi momentum audiensi dengan Bapak Erick Thohir selaku Menteri BUMN. Dalam kesempatan ini, kementerian memastikan dukungannya pada program Get The Fest dan Get Plastic secara menyeluruh.

Selain audiensi dengan BUMN, kami juga menerima dukungan dari beberapa lembaga pemerintahan terkait seperti: Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Kementerian Sekretariat Negara, dan Pertamina Power Indonesia. Hasil dari audiensi ini adalah dukungan BUMN dan Pertamina Power untuk standarisasi hasil bensin dari mesin pirolisis, scalling-up mesin inovasi dari Get Plastic dan dukungan Get The Fest. Untuk mengimplementasikan upaya kampanye Get The Fest kami juga melaksanakan pra-acara dengan konsep kampanye berkaraoke dengan genset dari BBM sampah plastik.

Pameran: KLHK Expo & Ubud Food Festival

Pada pertengahan Juni, tim Get Plastic diundang untuk meramaikan acara Climate Change Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK). Pameran/expo yang dilakukan ini dibuat sebanyak 2 kali dalam kurun waktu yang berbeda. Selama pameran, tim Get Plastic mengenalkan mesin pirolisis dan berbagai olahan residu karbon dari hasil pengolahan sampah plastik. Kemudian pada akhir Juni, kami juga menjadi salah satu supporter untuk Ubud Food Festival, dimana 60 liter BBM dari sampah plastik kami sumbangkan untuk kebutuhan acara selama 3 hari. Selama 3 hari kami juga menjual beberapa merchandise yang dibuat oleh tim. Follow @bygetplastic ya untuk info penjualan merchandise!

 

 

 

 

 

Donasi Kitabisa untuk Get Plastic

Yayasan Get Plastic Indonesia adalah organisasi independen yang berfokus pada isu lingkungan terutama pengolahan sampah plastik. Sejak tahun 2014, founder kami sudah mulai berinovasi mengembangkan mesin pirolisis yang dapat mengubah sampah plastik menjadi BBM. Kesadaran ini kemudian terbentuk lebih luas hingga di tahun 2020 kami mendirikan yayasan agar inovasi ini dapat diterapkan di seluruh Indonesia. Selama berproses dengan Get Plastic banyak sekali hal yang cenderung "berani" dilakukan. Pada tahun 2018, founder kami berkendara dengan Vespa berbahan bakar sampah plastik dari Jakarta - Bali sejauh 1200 km. Dengan mengunjungi 15 kota, kami memberikan workshop kepada masyarakat luas tentang masalah sampah plastik dan cara mengolahnya. Di tahun 2019 kami memenangkan Social Innovation Fund Allianz di Jerman. Kemudian di tahun 2020 melanjutkan perjalanan mobil berbahan bakar sampah plastik dari Bali - Jakarta 1300 km. Seluruh pendanaan kami peroleh dari hasil patungan kawan-kawan dan hasil dari kerjasama kemitraan. Inisiatif ini kami lakukan untuk menjangkau publik yang lebih luas. Di tahun 2022 ini, kami juga menginisiasi gerakan pengolahan 25 ton sampah plastik menjadi BBM untuk perjalanan tur dan konser musik di 5 kota (Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Banyuwangi, Denpasar).

Saat ini kami sedang mengadakan gerakan massif pengolahan sampah plastik menjadi BBM. Dari sanalah kami menginisiasi penggalangan dan untuk gerakan kampanye massif ini. Galang dana adalah bentuk dukungan publik dalam inovasi dan pengembangan teknologi oleh anak bangsa. Kami sangat membutuhkan publik untuk dapat menerapkan teknologi ini dan membuktikan pada dunia bahwa Indonesia bisa berdaulat dalam pengelolaan dan pengolahan sampah plastiknya.

Selama tiga bulan telah terkumpul sebanyak Rp 6.151.656 yang terkumpul dari Rp 500.000.000 dengan total 111 Donasi.

Pencairan Dana Rp 5.700.000

ke rekening BRI *** **** **** **** 7301 a/n YAYASAN GET PLASTIC

Rencana Penggunaan Dana Pencairan: Dana ini akan kami gunakan untuk melakukan pengolahan sampah plastik, sebagai bagian dari kampanye kami untuk meningkatkan awareness dari masyarakat, bahwa sampah plastik dapat diubah menjadi energi baru (BBM). Terima kasih atas dukungannya, semoga kami dapat menunaikan amanah pengolahan sampah plastik ini menjadi energi yang bermanfaat bagi masyarakat untuk kebutuhan motor dan mesin berbahan bakar solar/bensin yang mereka gunakan!