Gerakan Tarik Plastik dari Sampah ke Energi Alternatif

Permasalahan sampah menjadi salah satu permasalahan yang krusial dan seperti tak ada ujungnya. Produksi sampah yang meningkat mulai dari skala rumah tangga, toko, hingga perusahaan skala besar membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi korban dari pola-pola kehidupan yang kurang bijak dalam mengelola sampah. Pola konsumtif yang terjadi hari ini dibarengi pula dengan sistem kapitalistik yang memproduksi barang-barang industri secara masal. Meningkatnya kebutuhan manusia terhadap produk-produk tersebut menghasilkan lebih banyak sampah dalam kehidupan sehari-hari kita.

Menurut jenisnya, secara umum sampah dibedakan menjadi dua jenis yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik termasuk sampah yang mudah terurai karena sampah jenis ini dihasilkan langsung oleh alam, sehingga apapun yang berasal dari alam maka akan mudah terurai di alam. Sementara itu, sampah jenis kedua merupakan sampah anorganik, sampah ini termasuk yang lebih sulit diurai tanah karena kandungan yang ada di dalamnya. Sampah anorganik atau yang biasa dikenal dengan sebutan sampah plastik menjadi permasalahan krusial yang kita hadapi hari-hari ini.

Merujuk data dari Mongabay (2019) produksi sampah di Bali mencapai angka 4.281 ton per harinya, dari data tersebut hanya 48% sampah yang dikelola dan 52% sisanya tidak dikelola dengan baik. Data tersebut menunjukkan bahwa manajemen pengelolaan sampah di Bali belum mencapai pengelolaan yang maksimal dan signifikan. Sedikitnya jumlah sampah yang dikelola berujung pada penumpukan sampah di TPA. Menumpuknya sampah di TPA diperparah dengan bercampurnya sampah jenis organik dan anorganik yang membuat proses penguraian menjadi kurang maksimal.

Timbulan yang terjadi di TPA sebenarnya membawa kerugian yang berlipat, selain sampah yang tercampur dan tidak terurai dengan baik, sampah yang menumpuk juga cenderung bocor ke pantai dan menyebabkan kerusakan ekologi yang lebih buruk, ditambah lagi potensi kebakaran pada TPA yang mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar. Sebanyak 50% sampah di Bali berasal dari tiga kabupaten yaitu Badung, Gianyar dan Denpasar, dari sampah yang dibuang tersebut 70% diantaranya berakhir di TPA Suwung, Denpasar. Banyaknya kabupaten yang membuang sampahnya di TPA Suwung membuat timbunan sampah di Suwung membludak. Kapasitas yang membludak tersebut juga berimbas pada larangan bagi Kabupaten Badung untuk membuang sampah mereka ke TPA Suwung. Larangan tersebut membuat pemangku kebijakan di Kabupaten Badung secara khusus menyiapkan strategi pengolahan sampah yang baru.

Metode Alternatif

Badung sebagai salah satu kabupaten yang menyumbang sampah ke TPA Suwung mulai menggalakkan kampanye olah sampah dari rumah masing-masing. Strategi tersebut dilakukan lantaran sarana dan prasarana dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) belum juga rampung. Sampah-sampah rumah tangga kemudian diolah di rumah dengan memisahkan sampah organik dan dijadikan kompos, kemudian sampah anorganik dipilah untuk dikumpulkan pada bank sampah di masing-masing banjar. Meski demikian, belum ada penilaian yang pasti terhadap keberhasilan langkah tersebut sebab di beberapa desa salah satunya desa yang saya tinggali di Desa Darmasaba, sampah rumah tangga belum dipilah dengan baik dan hanya dikumpulkan dan diambil oleh petugas sampah keliling yang diinisiasi oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kurangnya kesadaran dan edukasi terhadap warga juga menjadi faktor sampah tersebut tidak diolah dengan baik dan hanya ditampung di TPS/TPA.

Di sisi lain, upaya untuk mengelola sampah juga marak dikampanyekan oleh beberapa Non Government Organization (NGO) yang ada di Bali, berbagai latar belakang NGO bergerak untuk menuntaskan permasalahan lingkungan terutama sampah yang ada di Bali. Salah satu NGO yang berfokus pada permasalahan sampah plastik adalah Get Plastic Foundation. Sejak tahun 2017 Get Plastic Foundation resmi berbadan hukum dan menginisiasi gerakan tarik plastik atau yang kemudian disingkat dengan sebutan Get Plastic. Berbasis di Desa Sibangkaja, Abiansemal, Badung organisasi non-profit ini tumbuh dan melakukan kerja-kerja terkait pengelolaan dan pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Sebagai organisasi non-profit, Get Plastic memiliki visi meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pengolahan sampah plastik menjadi BBM dengan alat yang mereka kembangkan secara mandiri. Kerja-kerja yang mereka lakukan ditunjukkan melalui kegiatan pendampingan pada desa-desa di Indonesia termasuk Bali dan Jawa. Di Bali sendiri pendampingan dilakukan di daerah Singaraja dan Abiansemal. Sementara di Jawa pendampingan dilakukan pada desa di Banyuwangi dan Pulau Pramuka, Jakarta. Pendampingan dan edukasi pada desa-desa dilakukan dengan tujuan awal mereka menarik sampah plastik mulai dari skala terkecil yaitu desa. Hal ini dilakukan karena penyelesaian masalah sampah plastik akan teratasi jika masyarakat dapat secara sadar memahami pengolahan sampah mereka sejak awal secara mandiri.

Get Plastic sendiri menginisiasi sebuah alat pengolahan sampah plastik yang mereka kembangkan secara mandiri, metode yang digunakan dalam pengolahan sampah plastik ini adalah metode pirolisis. Metode pirolisis pertama kali ditemukan di Jepang dan dijadikan metode untuk melakukan pengolahan sampah plastik yang sulit terurai. Pirolisis adalah metode dekomposisi bahan organik yang terdapat pada sampah plastik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen dan pereaksi kimia lainnya. Proses dekomposisi tersebut yang nantinya akan menghasilkan output berupa bahan bakar solar dan bensin. Get Plastic sendiri mengembangkan alat yang sebelumnya dirangkai menggunakan bahan bekas, namun untuk mewujudkan misi yang lebih luas alat kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahan stainless steel untuk mendukung daya alat yang lebih kuat dan tahan lama. Komponen yang digunakan dalam alat tersebut terdiri dari komponen reaktor, kondensor, tabung penyimpanan minyak, serta penyaring gas dengan teknik hidrokarbon.

Menginisiasi Tur Berbahan Bakar Sampah Plastik

Pada tahun 2018, Dimas Bagus Wijanarko salah satu Founder Get Plastic menginisiasi sebuah perjalanan ramah lingkungan sejauh 1200 km. Perjalanan ramah lingkungan (sustainable tour) tersebut dilakukan dengan mengendarai motor Vespa yang sepenuhnya diisi menggunakan bahan bakar dari hasil olahan sampah plastik. Perjalanan dari Jakarta-Bali tersebut tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai perjalanan terjauh dengan Vespa dan menggunakan bahan bakar dari olahan sampah plastik. Perjalanan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa sampah plastik yang susah diurai nyatanya mampu diubah menjadi bahan bakar solar dan bensin. Selain itu, tentu saja tujuan utama untuk mengatasi permasalahan sampah plastik mampu dilakukan dengan metode pirolisis tersebut.

Hingga kini perjalanan ramah lingkungan masih terus diupayakan untuk memberi informasi dan membangun kesadaran kepada khalayak luas bahwasanya sampah plastik masih dapat diolah menjadi energi baru seperti bahan bakar minyak (BBM) tersebut. Kerja-kerja yang diupayakan Get Plastic juga menitip harapan terkait penyelesaian permasalahan sampah plastik sesegera mungkin, sebab permasalahan sampah yang tak ada ujungnya hanya akan mewariskan beban dan dampak buruk ekologi bagi generasi mendatang. Sejalan dengan taglinenya No Plastic Goes to Waste, Get Plastic memberi harapan baru bahwa tak ada satu sampah plastik pun yang akan terbuang sia-sia.

Ketika Sampah Plastik Menghantui Laut dan Wilayah Pesisir Indonesia

Sampah plastik terlihat mengapung di sepanjang pesisir pantai dekat dermaga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Sejauh mata memandang, di tengah birunya laut Pulau Pramuka masih banyak sampah-sampah yang mampir ke pesisir pantainya. Selepas turun dari kapal, saya memperhatikan bagaimana sampah-sampah ini bisa menyapu lautan dan kembali lagi ke darat.

Menurut beberapa masyarakat lokal, pemandangan itu adalah hal biasa, bisa jadi juga sampah plastik itu merupakan sampah kiriman dari Jakarta akibat angin musim barat. Namun tak menutup kemungkinan pula, ada beberapa masyarakat yang masih membuang sampah rumah tangga mereka ke laut, seringkali tak ada pilihan bagi mereka.

“Kalau gak dibuang bau mbak, biasanya kalau gak diambil petugas, ya dibuang ke laut” terang salah satu pedagang di Pulau Pramuka, selepas kegiatan volunteer yang saya lakukan untuk mendata rumah tangga yang memilah sampah di Pulau Pramuka.

Pada tahun 2015, dunia digemparkan dengan hasil riset dari Jenna Jambeck yang menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah China.

Riset yang fenomenal ini kemudian membuat berbagai gerakan pengelolaan dan pengolahan sampah laut mulai muncul. Salah satunya adalah Pulau Pramuka, pada tahun 2020 saya berkesempatan melakukan kegiatan volunteer bersama Yayasan Get Plastic Indonesia, sebuah organisasi yang berfokus pada pengelolaan dan pengolahan sampah plastik menjadi BBM melalui proses pirolisis.

Pulau Pramuka menjadi salah satu wilayah yang diintervensi untuk piloting mesin pirolisis ini, bekerjasama dengan Yayasan Rumah Literasi Hijau, program ini menjadi salah satu jawaban untuk menyelesaikan sampah plastik yang ada di wilayah pesisir, terutama sampah-sampah plastik tak bernilai yang tidak diterima oleh pengepul atau bank sampah.

Sampah plastik tentu menjadi momok menakutkan bagi kita semua, terlebih wilayah pesisir yang secara akses jauh lebih sulit untuk mengakses sarana-sarana pengelolaan dan pengolahan sampah. Bahkan, untuk kasus Pulau Pramuka, mereka rutin mengirimkan sampah dari pulau ke TPA Bantar Gebang.

Inovasi yang mampu menjawab tantangan ini diperlukan sehingga permasalahan sampah terutama sampah plastik dapat diselesaikan secara langsung di wilayah pulau.

Pulau Pramuka, Bertahan dari Permasalahan Sampah Plastik
Sampah plastik bukan menjadi permasalahan baru di Indonesia, salah kelola dan sulitnya material plastik untuk terurai menjadi penyebab utama bahayanya sampah plastik bagi alam. Terlebih bagaimana sampah plastik ini berpengaruh di wilayah pesisir, dimana akses sarana TPA sangat minim, bahkan belum ada sistem pengolahan yang dapat menjawab tantangan ini.

Hal ini juga dikuatkan dengan penelitian yang diterbitkan Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention On Biological Diversity) pada 2016, dimana dijelaskan bahwa sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies laut yang ada.

Sampah plastik menjadi salah satu yang bahaya, dimana ia menyebabkan terancamnya biota laut karena karakteristiknya yang sulit terurai secara alami. Hal yang lebih menyeramkan dijelaskan BBC (2021) dimana paus di Wakatobi memakan sebanyak 115 plastik dan sandal jepit, ancaman yang serius bagi biota laut kita hari ini.

Maraknya kasus-kasus kerusakan biota laut akibat sampah plastik, membuat Yayasan Get Plastic Indonesia jengah untuk membangun sistem pengolahan sampah plastik melalui pirolisis secara remote dengan mesin yang low-tech solusi ini dapat mengolah sampah plastik menjadi BBM sejenis solar dan bensin, selain itu mesin ini juga menghasilkan gas propilen dimana semua keluaran dari mesin ini dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional nelayan seperti bahan bakar kapal, gas propilen untuk menyalakan genset dan berbagai mesin lainnya yang disuplai oleh solar atau bensin.

Keberhasilan Pulau Pramuka dalam pilot pengolahan sampah plastik menjadi BBM ini juga berkat kerja keras dari Yayasan Rumah Literasi Hijau yang membuat program dapat berjalan dengan berkelanjutan.

Selain mengolah sampah dari tiap rumah tangga di Pulau Pramuka, Yayasan Rumah Literasi Hijau yang dikepalai oleh Ibu Mahariah Sandre juga menginisiasi program pengolahan sampah plastik untuk nelayan, dimana program ini dikenal dengan barter BBM berupa solar, dengan mekanisme nelayan mengumpulkan 3 kg sampah plastiknya dari laut untuk ditukarkan dengan 1 liter BBM hasil pirolisis.

Skema pengolahan sampah plastik ini dapat dijadikan salah satu opsi untuk mengurangi sampah plastik yang terbuang ke laut yang membahayakan biota laut.

Proses ini juga dapat dijadikan salah satu strategi bertahan dari kelangkaan solar di kemudian hari, jika pilot ini dapat dikembangkan lebih lanjut makan masyarakat pesisir akan memiliki nilai tawar terhadap kebutuhan energi di pulaunya sendiri. Selain mampu menjawab tantangan pengelolaan dan pengolahan sampah plastiknya, mereka juga mampu sintas dalam keadaan sulit akan akses energi.

Mengelola Sampah Plastik Menjadi Energi
Sepanjang tahun 2020-2021, pendampingan intensif dilakukan oleh Yayasan Get Plastic Indonesia untuk melihat bagaimana solusi pirolisis ini dapat menjangkau kebutuhan akan akses pengolahan sampah plastik di pesisir.

Program ini juga menjadi rujukan bagaimana cadangan energi dapat diupayakan apabila masyarakat mampu menggerakkan usaha kolektif dalam pengolahan sampah plastik ini.

Menurut catatan dari Yayasan Get Plastic Indonesia, sebanyak 279,9 kg sampah plastik diolah selama 2 bulan menjadi 184,31 liter BBM sejenis solar. Hasil keluaran dari metode ini menjadi salah satu catatan untuk kita dapat mengelola sampah plastik yang ada di pesisir agar tidak masuk dan mencemari ekosistem bawah laut kita lagi.

Seperti yang dijelaskan KLHK (2021) bahwa dalam 15 tahun terakhir Indonesia menghadapi tantangan besar dalam produksi sampah plastik karena jumlah dan fraksi sampah plastik terus meningkat yang, dimana sebagian besar dihasilkan dari barang-barang plastik sekali pakai seperti kantong plastik, kemasan plastik fleksibel (sachet dan pouch), sedotan plastik, dan wadah busa plastik (styrofoam).

Plastik sekali pakai ini merupakan salah satu jenis yang sering ditemui di Pulau Pramuka, melalui metode pengelolaan sampah plastik menjadi energi ini, banyak harapan terucap agar perairan Indonesia dapat bersih dari sampah plastik dan masyarakat pesisirnya dapat menjadi pioner dalam penyelesaian masalah ini.

Posisi Perempuan dan Ekosistem Pesisir
Peran masyarakat pesisir dalam penjagaan ekosistem bawah laut menjadi salah satu yang utama, namun dimanakah posisi perempuan pesisir dalam keberlangsungan ekosistemnya?

Nyatanya, peran perempuan menjadi sangat krusial, entah apapun pekerjaannya dalam ekosistem kelautan. Hal ini dapat dilihat dari sosok Mahariah Sandre yang bergerak untuk membangun sistem pengolahan sampah di daerahnya di Pulau Pramuka. Ia mengambil ranah-ranah pekerjaan yang vital dan mampu membangun keberlangsungan lingkungan di Pulau Pramuka.

Posisi lain dari perempuan pesisir juga sudah seharusnya ditilik dalam kaitannya dengan penjagaan keanekaragaman hayati. Anita Dhewy dalam Jurnal Perempuan ke 95 mengenai Perempuan Nelayan juga menjelaskan bahwa analisa posisi perempuan dalam menjaga laut menjadi penting agar produktivitas dan keadilan terhadap perempuan juga terjamin.

Hal yang perlu dilakukan adalah melakukan advokasi mengenai kesetaraan gender, membentuk “champions” (yang dapat memajukan hak-hak perempuan nelayan), kerja sama dengan peneliti dan para ahli kebijakan.

Koalisi besar ini dibutuhkan antara LSM, pemerintah, peneliti dan akademisi. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa lensa gender dibutuhkan dalam memformulasi kebijakan perikanan yang menitikberatkan pada hak-hak perempuan.

Hal yang baik sudah ditunjukkan salah satunya di Pulau Pramuka, harapannya adalah posisi perempuan pesisir mampu meneropong isu keberlanjutan ekosistem laut termasuk dari ancaman sampah, sehingga tak ada lagi sampah-sampah plastik yang hanyut dan menyebabkan rusaknya ekosistem laut Indonesia.

tulisan ini telah terbit di lautsehat.id, diterbitkan ulang untuk kebutuhan non-profit.

Gili Air Reggae Festival; Festival Reggae Pertama dengan Bahan Bakar Sampah Plastik

Gelaran festival kini semakin marak dilaksanakanan, hal ini terjadi salah satunya merespons anjuran pemerintah yang sudah memperbolehkan publik melakukan kegiatan terutama konser dan festival musik. Mulai dari Jakarta sampai ke wilayah timur, festival musik mulai diadakan secara bergantian. Antusiasme penonton begitu tinggi, mulai dari masyarakat lokal sampai turis mancanegara semua berbondong-bondong mengikuti gelaran musik dan festival ini.

Salah satu festival musik yang juga diminati public adalah reggae festival, di salah satu pulau kecil di utara Lombok; Pulau Gili Air juga dilaksanakan festival reggae. Festival ini diinisiasi oleh kawan-kawan musisi seperti Richard D Gilis, yang mana seluruh acara di support oleh Raja Salim Bar, Gili Air. Mulai dari tempat, hospiality dan rangkaian acara selama dua hari di support oleh kawan-kawan musisi dan Raja Salim Bar. Kesempatan ini menjadi sangat mahal karena ini adalah festival reggae pertama yang dilakukan setelah pandemi menghantam dunia terutama dunia hiburan.

Salah satu poin menarik dari festival ini adalah semua kebutuhan kelistrikan selama acara disupport dengan genset yang berbahan bakar dari hasil olahan sampah plastik. Bahan bakar sampah plastik ini disupply oleh Yayasan Get Plastic yang berdomisili di Bali. Selama dua hari festival berlangsung, sebanyak 60 liter BBM setara solar dari sampah plastik disumbangkan dan digunakan dalam festival reggae ini. Hasilnya 100% festival ini dapat dikatakan ramah lingkungan, bahkan mampu mengurangi kurang lebih 60 kg sampah plastik yang selama ini tercecer begitu saja, selain itu tidak ada kendala yang terjadi selama acara berlangsung menggunakan BBM dari sampah plastik.

Festival reggae yang diadakan selama dua hari pada tanggal 27 – 28 Mei ini menghadirkan banyak sekali musisi reggae baik lokal maupun dari luar pulau. Keseruan festival di masing-masing hari menambah poin menarik dari event ini. Bahkan kerumunan penonton membludak di setiap harinya, terbukti di hari kedua penonton dari lokal dan luar negeri tampak sangat memadati area acara di Raja Bar, Gili Air.

Keseruan acara ini juga dimeriahkan dengan kedatangan beberapa musisi yang berkolaborasi dan memberikan aksi panggung terbaik mereka. Di hari pertama dan kedua festival ini disupport oleh musisi dan seniman seperti:

MC Dellu Uyee
Dreadssmad Yoo G
ACFL Lombok
Back To Reggae
Fredy Marley
Wahyu Yesteman
S2B Family
Richard D Gilis
DJ Eza
Get Plastic
Gili Percussion
No Big Deal
Rebel Warriors
Jumat Libur Soundsystem
D’jambe Lombok
Emilio Gangsta Rasta
Cozy Republik
Denny Fruzt

Dukungan dari semua musisi ini menambah semarak festival yang diadakan selama dua hari ini, penonton pun sangat antusias, terbukti dari unggahan stories Instagram yang direpost di Instagram @giliairreggaefest_. Tak sedikit penonton dan pengunjung festival berharap festival seperti ini bisa dilakukan secara rutin tiap tahunnya. Melalui keberhasilan festival reggae dengan BBM sampah plastik ini, rasanya keseruan festival ini akan dinanti lagi di tahun-tahun mendatang.

Menyiasati Pandemi, Bertanggung Jawab Pada Produksi Sampah Pribadi

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam membangkitkan kesadaran masyarakat dalam manajemen sampah adalah pendekatan yang lebih personal. Di tengah pandemi ini, berbagai kegiatan memang cukup dibatasi. Hal ini juga berdampak pada minimnya donasi sampah yang masuk ke Get Plastic Learning Centre Bali, untuk menyikapi hal tersebut, tim Get Plastic yang bekerjasama dengan Yayasan Allianz Peduli mencoba mengubah metode edukasi dengan melakukan sosialisasi door to door yang sesuai dengan protokol kesehatan guna mengurangi kerumunan di masa pandemi ini.

Selama tahun 2020, tim Get Plastic telah menerima donasi sampah dari warga di sekitar Learning Centre yang berpusat di wilayah Sibangkaja, Badung, Bali. Donasi sampah tersebut yang kemudian diolah menjadi BBM sehingga permasalahan sampah plastik, khususnya di sekitar wilayah Learning Centre dapat terselesaikan. Di samping itu output berupa solar dan bensin yang dihasilkan dari pengolahan sampah plastik pun didistribusikan pada masyarakat sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Output berupa bahan bakar menjadi salah satu solusi untuk masyarakat mengganti bahan bakar dengan energi yang dihasilkan dari pengolahan sampah plastik.

Adapun data sampah plastik yang terolah pada periode Juli 2020-Februari 2021 adalah sebesar 580 kg. Pengumpulan sampah yang kami lakukan menggunakan berbagai metode, selain menerima donasi sampah dari sekitar Learning Centre kami pun berusaha melakukan penjemputan sampah dengan sosialisasi door to door yang sudah kami lakukan. Hal ini bertujuan untuk menjaring lebih banyak kepedulian dan minat masyarakat dalam mengelola dan mengolah sampah utamanya sampah plastik yang mereka hasilkan sehari-hari. Tim Get Plastic juga melakukan kerja-kerja lain seperti melakukan edukasi sebanyak 25 kali baik secara online ataupun offline dalam bentuk seminar, workshop, diskusi dan showcase. Kinerja yang adaptif sangat dibutuhkan dalam masa pandemi ini, untuk itu tim Get Plastic selalu mengupayakan kolaborasi dan metode edukasi yang variatif.

Learning Centre Bali Sebagai Media Pembelajaran Bersama

Tepat setahun setelah Get Plastic memenangkan kompetisi sosial Inovation Fund dari Yayasan Allianz Indonesia, Learning Centre Bali resmi berdiri sebagai ruang diskusi dan belajar mengenai permasalahan lingkungan utamanya mengenai manajemen pengolahan sampah plastik. Di tahun 2020, salah satu ikon dari Learning Centre Bali yaitu Bamboo House resmi didirikan dan telah menjadi ruang tukar ilmu serta pengalaman dari berbagai kunjungan yang datang.

Berbagai kunjungan baik itu individu maupun komunitas kami terima sebagai salah satu visi kami untuk bekerja bersama-sama dalam proses penanganan sampah plastik di Indonesia. Sepanjang tahun 2020, meski dihadang pandemic, Learning Centre Bali tetap menerima kunjungan bahkan beberapa volunteer dari luar negeri.

Apa yang kami lakukan di sepanjang tahun 2020 merupakan mimpi besar kami untuk salah satunya membangkitkan kepedulian serta partisipasi masyarakat dalam kerja-kerja penjagaan lingkungan seperti pengelolaan dan pengolahan sampah plastik. Secara spesifik kami pun menerima sampah donasi dari warga di sekitar Br. Lateng, Sibangkaja, Badung karena ini merupakan bentuk tanggung jawab kami selama beberapa tahun mendirikan tempat workshop dan Learning Centre di daerah ini. Kedepannya kami pun berharap dapat mereplikasi apa yang telah kami lakukan ini di berbagai daerah di Bali dalam hal menyelesaikan permasalahan sampah plastik.

Di tahun 2021, kami kembali bergerak dengan melakukan beberapa sosialisasi di beberapa toko/kios yang tersebar di sekitar daerah Learning Centre kami. Sosialisasi yang kami lakukan lebih terkait pada produksi sampah yang banyak dihasilkan oleh toko dan warung, yang mana sampah tersebut mayoritas dipenuhi oleh sampah plastik. Salah satu fokus utama kami dalam sosialisasi ini adalah membantu memberikan solusi terkait pengolahan sampah plastik menjadi BBM, sebab beberapa warga masih melakukan pembakaran sampah karena tidak mengetahui metode apa yang harus digunakan dalam mengelola dan mengolah sampahnya.