Bali Tidak Kekurangan Gerakan, Tapi Kenapa Permasalahan Sampah Masih Ada?
Raissa Kanaya
Kalau berbicara tentang sampah di Bali, kita sering membayangkan pantai yang tercemar, sungai yang membawa plastik, atau tumpukan sampah di berbagai titik. Namun jika kita melihat lebih dekat, ada hal lain yang juga terlihat jelas: Bali sebenarnya penuh dengan gerakan. Ada komunitas yang rutin membersihkan pantai, NGO yang bekerja di sungai, bank sampah di desa-desa, lembaga pendidikan yang mengajarkan pemilahan, social enterprise yang membangun sistem pengolahan, hingga masyarakat yang mulai terlibat. Secara sosial, Bali tidak pernah benar-benar diam.
Data yang pernah dirujuk dari KLHK menunjukkan bahwa pada tahun 2021 Bali sudah memiliki 583 Bank Sampah Unit dan 18 Bank Sampah Induk. Itu angka yang besar, dan itu baru satu bagian dari keseluruhan ekosistem yang bergerak. Di luar itu, masih ada berbagai komunitas, perusahaan, dan lembaga yang bekerja di isu yang sama. Artinya, persoalannya bukan karena kurangnya kepedulian. Bali justru memiliki banyak orang yang ingin berbuat sesuatu.
Namun, banyaknya gerakan itu belum otomatis membuat masalah selesai. Sampah tetap muncul, terus datang, dan sering kali terasa lebih cepat daripada solusi yang dibangun. Di Tabanan misalnya, kajian yang pernah dilakukan Clean Ocean trought Clean Communities pada tahun 2022 menunjukkan potensi timbulan sampah mencapai sekitar 422 ton per hari, dengan hampir setengahnya berisiko bocor ke lingkungan. Gambaran ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di Bali bukan kecil, dan bukan sekadar soal kesadaran individu. Ini adalah persoalan sistem yang belum sepenuhnya menyatu.
Jika dilihat dari para pelaku yang bergerak, Bali sebenarnya sangat hidup. Ada organisasi yang fokus menjaga sungai, ada gerakan anak muda yang menolak plastik sekali pakai, ada lembaga yang memberikan pelatihan pengelolaan sampah, ada komunitas yang rutin bersih pantai, ada pendamping desa, ada fasilitas pengolahan berbasis bisnis, hingga layanan pengumpulan dan daur ulang. Masing-masing bekerja dengan pendekatan yang berbeda dan memberikan kontribusi penting. Namun ketika semua ini berjalan pada jalur masing-masing, hasil akhirnya belum tentu menjadi satu sistem yang kokoh.
Siapa Bergerak di Mana?
Tabel ini memperlihatkan satu hal penting: Bali tidak kekurangan pelaku. Yang belum selesai adalah bagaimana semua pelaku ini bekerja dalam satu alur yang saling menguatkan. Ada yang fokus pada edukasi, ada yang membersihkan, ada yang mengumpulkan, ada yang mengolah, ada yang membangun model bisnis, dan ada yang mendampingi desa. Semua ini penting, tetapi sampah adalah persoalan rantai panjang. Jika rantai itu tidak terhubung dari hulu hingga hilir, maka solusi yang dibangun di satu titik akan mudah kehilangan daya di titik berikutnya.
Sampah yang sudah dipilah di rumah bisa kembali tercampur jika sistem pengangkutan tidak mendukung. Sampah yang sudah dikumpulkan bisa berhenti jika fasilitas pengolahan tidak siap. Sampah yang sudah diolah bisa kehilangan nilai jika tidak ada pemanfaatan lanjutan. Akibatnya, gerakan yang terlihat besar di awal sering kali melemah di tengah jalan. Ini bukan karena gerakannya salah, melainkan karena sistemnya belum cukup kuat untuk menopang perubahan secara konsisten.
Di sisi lain, tekanan terhadap Bali juga terus bertambah. Pariwisata, konsumsi harian, pertumbuhan penduduk, dan perubahan pola hidup membuat timbulan sampah terus meningkat. Artinya, upaya pengelolaan tidak hanya harus berjalan, tetapi juga harus berkembang lebih cepat dari pertumbuhan sampah itu sendiri. Jika tidak, maka gerakan yang ada akan selalu terasa seperti mengejar sesuatu yang terus menjauh.
Pemerintah sebenarnya sudah hadir melalui berbagai kebijakan. Bali memiliki regulasi pembatasan plastik sekali pakai dan rencana pengelolaan sampah di beberapa wilayah. Namun kebijakan tidak otomatis menjadi perubahan di lapangan. Implementasi membutuhkan koordinasi, infrastruktur, pendampingan, dan konsistensi. Tanpa itu, kebijakan hanya akan menjadi arah, bukan sistem yang benar-benar bekerja.
Di tengah kondisi seperti ini, pendekatan yang terintegrasi menjadi sangat penting. Get Plastic mencoba mengambil posisi dengan merancang skema pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir sebagai satu kesatuan. Proses ini dimulai dari tahap asesmen. Pada tahap ini, tim Get Plastic membaca kondisi nyata di lapangan melalui observasi jumlah timbulan sampah, melihat bagaimana warga mengelola sampah saat ini, memahami alur sampah yang berjalan, serta mempelajari struktur budaya dan adat di masyarakat sebagai pendekatan pendampingan. Setiap lokasi memiliki karakter berbeda, sehingga solusi tidak bisa disamaratakan.
Dari hasil asesmen tersebut kemudian disusun rekomendasi skema pengelolaan sampah yang dapat dijalankan bersama mitra. Rekomendasi ini mencakup hal-hal yang konkret seperti kapasitas mesin pirolisis yang dibutuhkan, pembentukan tim waste management, skema pengangkutan, sistem pemilahan, hingga alur pengolahan. Dengan demikian, skema yang disusun bukan hanya ide, tetapi desain operasional yang realistis.
Tahap berikutnya adalah implementasi. Implementasi dilakukan sesuai hasil rekomendasi yang telah didiskusikan bersama calon mitra. Pada tahap ini, pendampingan dilakukan secara langsung dengan membiasakan pemilahan sampah di warga, melatih tim waste management, serta memastikan skema yang telah dirancang benar-benar berjalan. Pendampingan ini tidak dilakukan secara singkat. Tim Get Plastic melakukan live in di lokasi selama 1–3 bulan untuk memastikan perubahan menjadi kebiasaan, bukan sekadar kegiatan sementara.
Pendekatan ini penting karena perubahan sistem membutuhkan waktu dan kehadiran yang konsisten. Sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan kampanye atau fasilitas. Ia membutuhkan perubahan perilaku, struktur kerja, dan alur yang jelas dari awal hingga akhir. Dengan skema yang terintegrasi, sampah tidak lagi hanya dipindahkan, tetapi benar-benar dikelola sebagai bagian dari sistem yang berkelanjutan.
Bali sebenarnya memiliki modal besar: masyarakat yang peduli, komunitas yang aktif, organisasi yang bergerak, dan kebijakan yang mulai terbentuk. Namun semua ini masih membutuhkan satu hal yang sama pentingnya, yaitu keterhubungan. Tanpa sistem yang menyatukan, gerakan akan tetap banyak, tetapi dampaknya akan terpecah.
Dan pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi siapa yang bergerak atau seberapa banyak gerakan yang ada. Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah permasalahan sampah ini dirawat, atau mau diselesaikan?
Penutupan atau pembatasan TPA Suwung memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pengelolaan sampah bisa diserahkan kepada warga tanpa sistem yang difasilitasi negara? Realitas di Denpasar menunjukkan jawabannya jelas, tidak. Ketika sistem pengangkutan berhenti dan opsi pengolahan tidak tersedia, masyarakat mencari jalan paling praktis: membakar sampah. Akibatnya, langit menjadi berkabut dan kualitas udara menurun. Saya merasakan ini secara […]
Kalau berbicara tentang sampah di Bali, kita sering membayangkan pantai yang tercemar, sungai yang membawa plastik, atau tumpukan sampah di berbagai titik. Namun jika kita melihat lebih dekat, ada hal lain yang juga terlihat jelas: Bali sebenarnya penuh dengan gerakan. Ada komunitas yang rutin membersihkan pantai, NGO yang bekerja di sungai, bank sampah di desa-desa, […]
Tidak semua kritik sosial harus datang dengan suara keras. Kadang, justru yang paling mengena adalah teguran yang disampaikan dengan ringan, hangat, dan terasa akrab. Itulah yang dilakukan NonaRia lewat lagu “Malu Dong”. Di balik nuansa retro yang ceria dan enak didengar, lagu ini menyimpan pesan yang sangat sederhana, tetapi penting: masih terlalu banyak orang yang […]
Catatan Kolaborasi Get Plastic dan The Kayon Jungle Resort Industri pariwisata sering ditempatkan dalam dua narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia dipuji sebagai penggerak ekonomi dan wajah keindahan alam. Di sisi lain, ia kerap dikritik sebagai salah satu penyumbang masalah lingkungan, termasuk sampah. Di tengah dua narasi ini, jarang dibicarakan satu hal penting: […]