21 Tahun Setelah Tragedi TPA Leuwigajah, Apa yang Berubah?

Pada tahun 2005, longsor sampah terjadi di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Gunungan sampah runtuh dan menimbun dua kampung di sekitarnya. Lebih dari seratus orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Foto: Pikiran Rakyat

Tragedi itu menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar dalam sejarah pengelolaan sampah di Indonesia. Dari peristiwa inilah kemudian tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional, sebuah pengingat bahwa sistem pengelolaan sampah yang buruk dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan.

Lebih dari dua dekade telah berlalu sejak peristiwa itu. Namun gunung sampah masih terus tumbuh di berbagai kota.

Belum lama ini, longsor sampah kembali terjadi di TPST Bantargebang, salah satu tempat pemrosesan sampah terbesar di Indonesia. Kejadian ini terasa seperti pengingat yang pahit, terutama karena terjadi tidak lama setelah bangsa ini kembali memperingati Hari Peduli Sampah Nasional.

Peristiwa di Bantargebang mengingatkan kita bahwa tragedi yang pernah terjadi di Leuwigajah bukan sekadar bagian dari masa lalu. Ia adalah peringatan tentang sistem yang hingga hari ini masih kita jalankan.

Wajah Manusia di Ujung Sistem Sampah

Ketika kita berbicara tentang sampah, yang sering muncul dalam bayangan kita adalah benda: plastik, kertas, sisa makanan, atau berbagai jenis limbah rumah tangga lainnya.

Namun di ujung sistem pengelolaan sampah, selalu ada manusia. Ada sopir truk yang setiap hari mengangkut sampah dari kota menuju tempat pemrosesan akhir. Ada pemulung yang memilah material yang masih memiliki nilai ekonomi dari tumpukan sampah. Ada pedagang kecil yang membuka warung bagi para pekerja di sekitar area tersebut. Ada pula berbagai pekerjaan informal lain yang hidup dari aktivitas di sekitar gunung sampah.

Bagi sebagian orang, tempat pembuangan akhir bukan sekadar lokasi penimbunan limbah kota. Ia adalah ruang kerja dan sumber penghidupan. Karena itu ketika longsor sampah terjadi, yang tertimbun bukan hanya material yang kita buang setiap hari. Ada manusia di sana, orang-orang yang berada paling dekat dengan sistem sampah, tetapi seringkali paling jauh dari keputusan tentang bagaimana sampah itu dikelola.

Kejadian seperti ini mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak pernah sepenuhnya tentang benda yang kita buang. Ia selalu berkaitan dengan kehidupan manusia yang berada di sekitarnya.

Perubahan Gaya Hidup dan Sampah yang Terus Bertambah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghasilkan sampah jauh lebih cepat daripada kemampuan sistem kita untuk mengelolanya. Perubahan gaya hidup dalam beberapa dekade terakhir membuat barang semakin mudah diproduksi, dibeli, digunakan, dan kemudian dibuang. Kemasan sekali pakai hadir hampir di setiap sudut kehidupan: dari makanan dan minuman, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga. Banyak di antaranya hanya digunakan dalam hitungan menit, tetapi akan tetap berada di lingkungan jauh lebih lama dari waktu pakainya.

Di sisi lain, sistem pengelolaan sampah tidak berkembang secepat perubahan tersebut. Infrastruktur pengolahan, kebiasaan pemilahan, hingga sistem daur ulang masih tertinggal dari laju produksi sampah yang terus meningkat setiap tahun.

Akibatnya, sebagian besar sampah yang kita hasilkan masih berakhir di tempat pemrosesan akhir. Truk-truk datang setiap hari membawa muatan baru: plastik, sisa makanan, kertas, tekstil, dan berbagai limbah rumah tangga lainnya.

Sedikit demi sedikit, timbunan itu membentuk lanskap yang jarang kita lihat secara langsung, gunung sampah yang terus bertambah tinggi di pinggiran kota.

Apa yang kita buang dari rumah pada akhirnya menumpuk di tempat-tempat seperti Bantargebang. Di sana, sampah tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat dan terus bertambah setiap hari.

Dua Puluh Satu Tahun Kemudian

Sejak Tragedi Longsor TPA Leuwigajah 2005, kesadaran tentang persoalan sampah di Indonesia memang semakin meningkat. Berbagai kebijakan, program pengurangan sampah, serta inisiatif daur ulang terus bermunculan di berbagai daerah.

Namun pada saat yang sama, sistem pengelolaan sampah di banyak kota masih sangat bergantung pada pola yang sama: sampah dikumpulkan, diangkut, lalu ditimbun di tempat pembuangan akhir. Selama cara ini masih menjadi tumpuan utama, gunung sampah akan terus tumbuh.

Foto: dibalik layar Film Jungkir Balik, TPST Bantargebang/Komunitas Barudak Leutik

Peristiwa yang terjadi di TPST Bantargebang beberapa hari lalu menjadi pengingat yang keras. Pada 8 Maret 2026, sebagian gunungan sampah di lokasi tersebut longsor setelah hujan deras mengguyur kawasan itu. Longsoran terjadi di area tempat truk-truk pengangkut sampah biasanya mengantre untuk membongkar muatan.

Material sampah yang runtuh menimbun kendaraan, warung kecil, dan orang-orang yang sedang beraktivitas di lokasi. Beberapa korban ditemukan meninggal dunia, sementara tim pencarian dan penyelamatan masih bekerja untuk memastikan tidak ada lagi orang yang tertimbun.

Bantargebang sendiri merupakan salah satu tempat pengolahan sampah terbesar di Indonesia, yang setiap hari menerima ribuan ton sampah dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa persoalan yang melahirkan Hari Peduli Sampah Nasional lebih dari dua dekade lalu belum sepenuhnya terselesaikan. Sampah yang kita hasilkan setiap hari masih terus bergerak menuju tempat yang sama, menumpuk sedikit demi sedikit hingga membentuk lanskap baru di pinggiran kota.

Dua puluh satu tahun setelah tragedi Leuwigajah, pertanyaan yang sama masih relevan untuk diajukan: sejauh mana cara kita mengelola sampah benar-benar berubah?

Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan