Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) lahir dari tragedi longsor TPA Leuwigajah pada 2005 sebuah peristiwa yang mengingatkan Indonesia bahwa sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi persoalan keselamatan dan tata kelola. Dua puluh tahun setelahnya, tantangan itu belum selesai. Timbulan sampah nasional masih berada di kisaran puluhan juta ton per tahun, dengan sampah plastik menjadi salah satu komposisi terbesar setelah organik. Tekanan terhadap TPA meningkat, kebocoran sampah ke lingkungan masih terjadi, dan pendekatan pengelolaan kerap berhenti pada pengumpulan serta pengawasan.
HPSN seharusnya menjadi ruang refleksi: apakah sistem yang kita bangun sudah cukup kuat? Apakah perubahan sudah dimulai dari sumbernya?
Sejak tahun 2023, Get Plastic berupaya menjawab pertanyaan tersebut melalui pendampingan pemilahan dan pengolahan sampah plastik di sekitar Get Plastic Learning Center. Pendampingan ini tidak dimulai dari mesin, melainkan dari rumah. Warga diajak membangun kebiasaan memilah sampah plastik sejak dari dapur mereka sendiri. Pemilahan dipahami bukan sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai fondasi dari sistem pengelolaan yang lebih utuh.
Dalam prosesnya, warga tidak hanya belajar memisahkan sampah, tetapi juga memahami ke mana sampah tersebut akan dibawa dan bagaimana ia dikelola. Sampah plastik yang sebelumnya dianggap beban, mulai diposisikan sebagai material yang bisa diolah. Di sinilah edukasi dan teknologi dipertemukan: agar perubahan perilaku memiliki arah yang jelas.
Pada 15 Februari lalu, Get Plastic kembali mengadakan edukasi dan sosialisasi untuk menjangkau warga lain di sekitar wilayah tersebut, sekaligus menambah warga dampingan baru. Langkah ini memperluas ekosistem pengelolaan sampah berbasis komunitas, memperkuat rantai dari pemilahan rumah tangga hingga pengolahan sampah plastik. Proses ini menjadi pondasi penting sebelum memasuki momentum refleksi yang lebih luas dalam peringatan HPSN 2026.
Sebagai kelanjutan dari kerja pendampingan tersebut, Get Plastic akan menyelenggarakan peringatan HPSN 2026 bertajuk “Ngayah untuk Rumah” pada 28 Februari 2026 di Tegal Temu Space. Tema ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah kerja kolektif yang dilakukan dengan kesadaran dan keberlanjutan.
Rangkaian kegiatan akan dimulai dengan melibatkan anak-anak melalui pertunjukan Kacak Kicak Puppet Theater serta aktivitas mewarnai merchandise residu hasil pirolisis. Pendekatan ini penting karena perubahan sistem tidak akan bertahan tanpa generasi yang memahami isu sejak dini. Anak-anak diperkenalkan pada pengelolaan sampah dengan cara yang kreatif dan kontekstual.
Pada sore hari, acara akan dilanjutkan dengan Diskusi Tematik “Jaga Rumah, Sampah Terkelola” yang mempertemukan Get Plastic bersama COCO Social Fund, Desa Adat Tegaltamu, dan Umah Pupa. Diskusi ini akan membahas bagaimana sistem pengelolaan sampah dapat diperkuat melalui kolaborasi antara komunitas, desa adat, pendamping sosial, serta inovasi teknologi.
Dalam rangkaian tersebut, Get Plastic juga akan memperkenalkan mesin pirolisis sebagai teknologi pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Pengenalan ini bukan sekadar demonstrasi teknologi, tetapi penegasan bahwa pemilahan dari rumah memiliki tujuan yang jelas dalam rantai sistem. Sampah plastik yang dipilah dengan konsisten dapat diolah dan dimanfaatkan kembali, mengurangi beban residu serta membuka potensi manfaat ekonomi lokal.
Melalui “Ngayah untuk Rumah”, Get Plastic menegaskan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan lebih dari sekadar peringatan tahunan. Ia membutuhkan pendampingan yang konsisten, perluasan partisipasi warga, dan kolaborasi lintas pihak. HPSN 2026 menjadi titik temu antara proses yang telah berjalan sejak 2023 dan komitmen untuk terus memperkuat sistem ke depan.
Menjaga rumah bukan pekerjaan satu hari. Ia adalah kerja bersama yang dilakukan terus-menerus, dari rumah, oleh warga, untuk lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Penutupan atau pembatasan TPA Suwung memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pengelolaan sampah bisa diserahkan kepada warga tanpa sistem yang difasilitasi negara? Realitas di Denpasar menunjukkan jawabannya jelas, tidak. Ketika sistem pengangkutan berhenti dan opsi pengolahan tidak tersedia, masyarakat mencari jalan paling praktis: membakar sampah. Akibatnya, langit menjadi berkabut dan kualitas udara menurun. Saya merasakan ini secara […]
Kalau berbicara tentang sampah di Bali, kita sering membayangkan pantai yang tercemar, sungai yang membawa plastik, atau tumpukan sampah di berbagai titik. Namun jika kita melihat lebih dekat, ada hal lain yang juga terlihat jelas: Bali sebenarnya penuh dengan gerakan. Ada komunitas yang rutin membersihkan pantai, NGO yang bekerja di sungai, bank sampah di desa-desa, […]
Tidak semua kritik sosial harus datang dengan suara keras. Kadang, justru yang paling mengena adalah teguran yang disampaikan dengan ringan, hangat, dan terasa akrab. Itulah yang dilakukan NonaRia lewat lagu “Malu Dong”. Di balik nuansa retro yang ceria dan enak didengar, lagu ini menyimpan pesan yang sangat sederhana, tetapi penting: masih terlalu banyak orang yang […]
Catatan Kolaborasi Get Plastic dan The Kayon Jungle Resort Industri pariwisata sering ditempatkan dalam dua narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia dipuji sebagai penggerak ekonomi dan wajah keindahan alam. Di sisi lain, ia kerap dikritik sebagai salah satu penyumbang masalah lingkungan, termasuk sampah. Di tengah dua narasi ini, jarang dibicarakan satu hal penting: […]